SEBUAH kisah viral bercerita tentang seorang anak 12 tahun hamil 8 bulan. Penyebabnya diketahui karena kasus kekerasan seksual.
Cerita ini diunggah oleh akun Tiktok @mommychutela. Dalam video memperlihatan kegiatan anak yang disamarkan dengan nama Bunga itu.
Di usia yang masih belia ia harus merasakan beban yang belum semestinya ia rasakan di usia tersebut. Di saat teman-temannya bersekolah dan menghabiskan waktu bermain dengan anak seusianya, Bunga harus bolak balik rumah sakit untuk kontrol kandungan.
Di saat anak seusianya masih lincah bermain ke sana kemari, ia harus banyak istirahta karena beban di perutnya yang sudah mulai berat.
Belum lagi ia harus rutin meminum vitamin kehamilan untuk menjaga kandungan. Saking banyaknya, vitamin itu harus digiling terlebih dahulu agar lebih mudah untuk diminum. Walaupun ia tidak mengerti apa yang terjadi pada tubuhnya, namun hari-hari itu harus dijalaninya.
Kehamilan yang dialami Bunga adalah kejadian yang tak diingin oleh sebagian besar orang. Selain karena belum memasuki usia tepat untuk hamil, juga akan berpengaruh pada kondisi ibu dan juga anak yang dilahirkan.
Dalam penuturan Healthline, dampak buruk kehamilan di usia remaja pada kesehatan fisik adalah ibu remaja memiliki kesehatan fisik paling buruk dari semua kategori wanita yang diteliti.
"Ibu remaja mungkin mengabaikan kesehatan fisik mereka saat merawat bayi. Mereka juga tidak memiliki akses makanan sehat, dan mereka cenderung alami obesitas," terang laporan penelitian yang diterbitkan di Jurnal Kesehatan Ibu Anak.
Lebih lanjut, menurut Institut Kesehatan Nasional, ada risiko yang lebih tinggi yang terjadi pada kehamilan di usia remaja, seperti:
1. Preeklampsia
2. Anemia
3. Tertular PMS (penyakit menular seksual)
4. Persalinan prematur
5. Melahirkan dengan berat badan bayi rendah
Tak hanya bagi sang ibu, anak yang dilahirkan juga rentan bermasalah baik fisik maupun mental. Lebih lanjut, menurut Youth.gov, efek lain bagi anak dari ibu remaja yaitu:
1. Risiko bayi lahir dengan berat badan rendah bahkan kematian bayi
2. Kurang siap masuk TK
3. Lebih mengandalkan perawatan kesehatan yang didanai pemerintah
4. Lebih mungkin dipenjara ketika sudah remaja
5. Lebih mungkin putus sekolah
6. Lebih cenderung menganggur atau setengah menganggur saat sudah dewasa muda.
(Vivin Lizetha)