WANITA melampaui batas. Ya, itulah sekiranya sebutan yang cocok untuk wanita berusia 24 tahun yang menerbangkan pelancong ke lapisan Greenland.
Lapiran es Greenland atau Gronlands indlandsis, adalah sebuah badan es yang meliputi 1.710.000 kilometer persegi (660.000 mil), sekitar 80 persen dari permukaan Greenland.
Lapisan es Greenland merupakan badan es terbesar kedua di dunia, setelah lapisan es Antartika. Lapisan es tersebut memiliki panjang hampir 2.400 kilometer (1.500 mil) yang terbentang dari utara-selatan, dan lebar terbesarnya adalah 1.100 kilometer (680 mil) pada bujur 77°N, dekat margin utaranya.
Greenland sendiri terletak di timur laut Amerika Utara, tepatnya berada di antara lautan Kutub Utara dan Samudera Pasifik.
Ketika Anda memikirkan seorang pilot dan CEO dari sebuah perusahaan perjalanan, Anda mungkin tidak membayangkan jika ia seorang wanita berusia 24 tahun. Namun, Mia Biilmann Larsen persis seperti itu.
Mengutip Euronews, diperkirakan hanya 5 hingga 10 persen pilot komersial di seluruh dunia adalah wanita. Terlepas dari statistik ini, Mia mengatakan dia tidak pernah merasa tertahan karena beberapa pilot di perusahaan yang dikelola keluarganya, Air Zafari Greenland, adalah perempuan.
“Itu bukan sesuatu yang saya pikir tidak akan bisa saya lakukan karena saya perempuan. Saya tidak pernah memiliki pengalaman itu,” jelas Mia.
“Tapi melihat reaksi orang sekarang setiap kali saya berkata, 'Ya, saya seorang pilot'. Sepertinya mereka hanya mengharapkan saya menjadi orang yang memperkenalkan pengalaman dan kemudian pilot akan datang dan mengambilalih," tambahnya.
Mia mengkau memiliki pengalaman sangat positif sebagai pilot wanita. Tapi dia memberi tahu kepada Euronews Travel tentang salah satu contoh seksisme selama pelatihan pilotnya.
''Saya duduk dengan seragam saya dan berbicara tentang beberapa pesawat yang kami tonton. Saya berkata, 'Oh, ini jet yang sangat indah' dan semua orang melihatnya dan mengangguk'', ungkap Mia.
"Dan kemudian salah satu dari mereka berkata, bahkan tanpa memikirkannya, 'Oh, ya, mungkin tanyakan apakah mereka membutuhkan pramugari'."
“Dan saya seperti (berkata) 'Saya ingin sekali menjadi pramugari, tapi bukan itu alasan saya di sini. Saya memakai seragam pilot saya," katanya lagi.
(Foto: Instagram/@miabiil)
Bagaimana rasanya terbang di atas Greenland?
Terbang selalu menjadi bagian besar dalam hidup Mia. Tumbuh dengan orangtua pilot, mereka melakukan segala macam petualangan, hak istimewa yang sangat disyukurinya.
Untuk waktu yang lama, Mia mengira kariernya mungkin mengambil jalan yang berbeda, tetapi segera menyadari bahwa terbang adalah panggilannya.
Ia memulai pelatihan pilotnya pada tahun 2019 di Denmark dan setelah selesai, kembali ke Greenland untuk bergabung dengan AirZafari sebagai pilot. Wanita itupun menjadi CEO pada 2021 lalu.
“Sungguh menakjubkan, setiap hari, memiliki pekerjaan di mana Anda berbagi pengalaman yang penuh petualangan, yang baru dan menarik bagi orang-orang," tuturnya.
Pekerjaan Mia membuatnya membawa penduduk lokal dan turis dalam penerbangan dari bandara utama negara di Kangerlussuaq dan dari kota terbesar di Greenland barat, Ilulissat ke atas lingkungan Arktik dan ke lapisan es.
(Foto: Instagram/@miabiil)
Menurut dia, ini adalah pemandangan spektakuler terlepas dari berapa kali Anda melihatnya dan tidak jarang para tamu menangis bahagia selama penerbangan. Ia juga sering meneteskan air mata.
Meskipun ada banyak momen yang melekat di kepala Mia dari cahaya yang luar biasa hingga hubungan emosional dengan tamu, salah satu momen paling spesialnyasejauh ini adalah pertama kali dia terbang ke Nuuk, ibu kota sekaligus kampung halamannya, bersama orangtuanya yang disayanginya.
(Rizka Diputra)