STRABISMUS atau disebut juga dengan mata juling, merupakan kondisi kelainan dari posisi antara kedua bola mata yang tidak sejajar. Mata juling terjadi karena gangguan atau kelemahan pada kontrol otak terhadap otot mata, sehingga bola mata tidak berada pada posisi yang sejajar satu sama lain atau neuromuscular weakness.
Menurut data, mata juling tidak hanya terjadi pada orang dewasa tapi juga anak-anak. Bahkan hasil pemeriksaan mata lengkap terhadap 3.009 anak usia 6-72 bulan di Singapura memperlihatkan bahwa 15 persen diantaranya mengalami strabismus.
Misalnya saja pada anak bayi baru lahir. Beberapa diantaranya mengalami mata juling yang disebabkan oleh faktor keturunan dari orang tuanya.
Spesialis Mata Konsultan Strabismus dan Ketua Panitia “Bakti Mata Juling JEC”, dr. Gusti G Suardana, SpM(K) menambahkan faktor risiko terbesar dari bayi yang mengalami mata juling adalah kelahiran secara prematur.
"Tidak hanya mata juling, kelahiran prematur juga bisa sebabkan bayi mengalami mata minus tinggi," kata dr Gusti dalam keterangan resminya di acara bertajuk 'JEC Luncurkan Inisiatif Sosial Operasi Mata Juling Pertama di Indonesia', baru-baru ini.
Dokter Gusti mengatakan bila mata juling disebabkan karena faktor keturunan tentu sulit dihindari. Namun bila penyebabnya kelahiran prematur bisa mencegah agar tidak prematur.
"Caranya ya dengan jaga kondisi kandungan, konsumsi makanan bernutrisi tinggi, dan lain sebagai," ucapnya.
Menurut dr Gusti, mata juling pada anak cukup membahayakan karena bisa saja disebabkan faktor lain yaitu tumor mata.
"Mata juling juga bisa mengancam jiwa seperti tumor mata, jadi harus dilakukan screening," tutupnya.
(Vivin Lizetha)