Ahli Epidemiologi Khawatirkan Data Kasus Gangguan Ginjal Akut Bukan 'Real Time'

Muhammad Sukardi, Jurnalis
Senin 31 Oktober 2022 13:42 WIB
Ilustrasi pasien gangguan ginjal akut, (Foto: Medicalnewstoday)
Share :

Ahli Epidemiologi Griffith University Australia, Dicky Budiman menyoroti catatan rekam data kasus gangguan ginjal akut di Indonesia. 

Dicky menilai meyakini bahwa banyak data kasus yang nyata, data real time di lapangan yang tidak tercover oleh Kementerian Kesehatan RI karena luasnya wilayah Indonedia.

Contohnya data di daerah-daerah yang mungkin masyarakatnya masih mengonsumsi obat berpotensi sebabkan gangguan ginjal akut, karena tidak terpapar informasi secara menyeluruh. Sehingga berpotensi menyebabkan terjadinya 'hidden accident' yang bisa berdampak panjang.

"Indonesia itu luas sekali, saya cukup khawatir masih ada di daerah-daerah yang tidak terjangkau informasi ini, dan itu membuat berpotensi mengalami masalah ini (hidden accident)," tutur DIcky ketika dihubungi MNC Portal, Senin (31/10/2022). 

Dengan kata lain, sambung Dicky, data yang dimiliki Kementerian Kesehatan bukanlah penggambaran sesungguhnya kejadian gangguan ginjal akut yang ada di masyarakat. Terlebih, sampai saat ini, belum ada sistem yang memberikan suplai data real time tersebut.

"Karena hal tersebut, saya cemas bahwa gangguan ginjal akut ini sifatnya hidden. Artinya, data yang ada itu kasus yang sudah terlambat. Nah, yang terjadi di masyarakat real time itu belum ada datanya," tegas Dicky lagi.

Inilah, diungkap Dicky mengapa penting menetapkan fenomena gangguan ginjal akut sebagai Kejadian Luar Biasa. Selain memang karena telah menyebabkan dampak fatal (kematian) yang tinggi, dengan status KLB penanganan krisis penyakit seperti ini bisa lebih terorganisir dari hulu sampai ke hilir, dari pusat hingga daerah.

“Itu kenapa pentingnya status KLB, sehingga penanganan bisa benar-benar sampai ke pelosok daerah," papar Dicky.

Sebagai informasi, Data Kementerian Kesehatan mencatat, penurunan kasus gangguan ginjal akut sekitar lebih dari 95 persen imbas dari pelarangan sementara konsumsi obat cair. Per 29 Oktober 2022, Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin mengatakan telah ada penurunan kasus dari 200 menjadi 80 kasus.

 BACA JUGA:Tingkat Sakit yang Dihasilkan Varian XBB Tergolong Ringan

BACA JUGA:Covid-19 Subvarian XBB Masuk Indonesia, Wapres Minta Masyarakat Waspada

(Rizky Pradita Ananda)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya