HIDUP di kota atau desa memiliki perbedaan dari sisi kebersihan udara. Polusi lebih parah di wilayah perkotaan. Ternyata juga memiliki dampak jangka panjang dan pendek terhadap kesehatan.
Menurut Dokter Spesialis Paru dr Agus, saat seseorang menghirup polusi dan mengalami reaksi gatal, batuk dan lainnya itulah dampak dalam jangka pendek. Disampaikan kalau polusi terbagi dua yaitu bersifat akut (jangka pendek) dan kronik (jangka panjang).
"Untuk yang dampak akut ini memang sering kali muncul, namun tidak kita rasakan. Kalau kita lewat di suatu daerah yang polusi terus kemudian mata kita merah atau kita bersin-bersin, tenggorokan tidak nyaman itu dampak akutnya, kadang tidak terasa," ujar ujar Ketua Umum Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Dr. dr. Agus Dwi Susanto, Sp.P(K).
Polusi yang terdiri dari partikel kecil, seseorang kerap tak menyadari jika terpapar polusi. Salah satu cara mencegahnya, Agus mengatakan pakai masker saat beraktivitas.
BACA JUGA:Waspada! Asap Rokok yang Menempel di Sofa dan Tembok, Mampu Picu Infeksi Paru Kronik
Lalu apa benar orang kota lebih rentan terkena penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) ?
Sebagaimana dikatakan, kalau polusi bisa menyebabkan infeksi pernapasan bagian atas atau ISPA. Menurut datanya ternyata tinggi, di mana orang-orang kota jauh lebih banyak terkena penyakit ISPA dibandingkan di desa.
"Bahkan kadang keluar tidak terasa karena kita pakai masker itu salah satu upaya mencegahnya. Akut lainnya adalah terjadi infeksi saluran nafas atas atau ISPA cukup tinggi," jelasnya.
(Dyah Ratna Meta Novia)