GELOMBANG panas mematikan. Itu yang kini sedang terjadi di Spanyol dan beberapa negara Eropa serta Amerika Serikat lainnya.
Menurut laporan Live Science, tercatat 1.169 nyawa meninggal dunia di Spanyol dan Portugal. Suhu di negara tersebut kini mencapai 45 derajat celcius.
Kejadian ini sebetulnya pernah terjadi pada 2003 di Eropa. Bahkan, korban meninggal kala itu tercatat 14.802 jiwa hanya di Prancis akibat hipertermia.
"Sebagian besar korban jiwa adalah masyarakat yang tinggal sendirian di apartemen tanpa AC," menurut Richard Keller, profesor sejarah medis dan bioetika Universitas Wisconsin-Madison.
Menjadi pertanyaan sekarang, kenapa gelombang panas bisa mematikan? Perlu Anda catat, ketika suhu tubuh naik terlalu tinggi, salah satunya akibat suhu lingkungan panas, semua organ bisa rusak.
"Usus bisa bocor dan mengeluarkan racun, sel-sel tubuh mulai mati, bahkan respons peradangan hebat akibat kepanasan bisa terjadi," ungkap laporan kesehatan tersebut, dikutip MNC Portal, Kamis (21/7/2022).
BACA JUGA : Gelombang Panas Sebabkan Heat Exhaustion, Apa Saja Gejalanya?
Orang yang lebih tua atau lansia adalah kelompok paling rentan mengalami kematian akibat gelombang panas. Menurut artikel di Jurnal Medicine & Science in Sports & Exercise, hal ini seringkali terjadi akibat sistem kardiovaskular pada lansia kurang tahan terhadap ketegangan yang disebabkan panas berlebih.
Parahnya, kalau suhu benar-benar panas anak muda sekalipun bisa meninggal dibuatnya. Ini yang terjadi pada seorang pelatih pribadi yang sedang bersepeda bersama teman-temannya pada 2017.
BACA JUGA : 1.000 Orang Meninggal Dunia Akibat Gelombang Panas, Simak Bahayanya!
Kala itu, pegowes yang diketahui masih muda tersebut berada di luar ruangan dengan suhu mencapai 47,7 derajat celcius. Meski dia banyak minum, dikabarkan pegowes tersebut meninggal dunia setelah tak sadarkan diri akibat kepanasan.
Kejadian serupa juga terjadi di California Utara pada musim panas 2021. Keluarga tersebut ditemukan tewas semua di Hutan Nasional Sierra karena alasan kepanasan. Kisah ini sempat menggegerkan Amerika Serikat, namun penyelidik memastikan bahwa mereka meninggal kepanasan karena suhu di hutan mencapai 42,7 derajat celcius.
Secara lebih detail Keller menerangkan soal bagaimana tubuh bisa berhenti berfungsi akibat kepanasan. Dalam dunia medis, itu disebut dengan istilah hipertermia.
Pertama, tubuh akan merasa sangat lelah saat kepanasan. Ini ditandai dengan keluarnya keringat, mual, muntah, dan bahkan pingsan.
Kemudian, fase berikutnya denyut nadi akan berpacu yang memungkinkan jantung berdetak sangat kencang. Lalu, kulit akan menjadi super lembap.
"Kram otot bisa menjadi tanda awal kepanasan yang tak boleh disepelekan," tambah Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC).
Parahnya, saat tubuh benar-benar tak bisa menahan suhu panas, tubuh mengalami heat stroke. Kalau ini sudah terjadi, pertolongan terlambat akan mengakhiri nyawa seseorang.
"Racun akan bocor dari dalam tubuh, lalu memicu respons peradangan yang masif. Sel otot akan rusak dan memperburuk kondisi kesehatan, sampai akhirnya fungsi tubuh gagal bekerja dan kematian terjadi," tambah Keller.
(Helmi Ade Saputra)