TERNYATA kualitas udara DKI Jakarta selama dua hari ini menjadi yang terburuk di dunia. Hal ini berdasarkan laporan Air Quality Index (AQI).
Kualitas udara DKI Jakarta yakni 188 US AQI per 10:30 WIB dengan PM 2.5 sebesar 128µg/m³ dan dan PM 10 sebesar 22µg/m³. Akibat kualitas udara yang buruk ini maka masyarakat diminta melindungi dirinya dengan memakai masker.
Dampak kualitas udara yang buruk juga tidak langsung memengaruhi kesehatan jantung.
Spesialis Jantung Dr Doni Yugo Hermanto, SpJP(K) menjelaskan, walau polusi udara Jakarta sangat tinggi, dampaknya tidak langsung memengaruhi kardiovaskular.
"Namun memang dampaknya masyarakat rentan mengalami gangguan paru dan pernapasan akibat udara yang buruk," ujarnya.
"Penelitiannya kalau polusi udara langsung berdampak pada paru-paru, bukan serangan jantung atau penyakit kardiovaskular lainnya," terang Dr Dony.
Bahkan ada juga yang menganggap, ketika orang olahraga di tengah polusi tinggi bisa timbul serangan jantung. Tenang, itu cuma mitos saja kok, sekali lagi dampak polusi tidak berpengaruh pada kardiovaskular.
"Kalau orang lagi olahraga kena serangan jantung, berarti dia punya riwayat penyakit jantung. Bukan salah olahraganya atau polusinya. Tapi memang pasiennya tidak tahu atau terlambat deteksi dini," jelas Dr Dony.
Nah, selain berbahaya untuk pari-paru, ternyata kualitas udara yang buruk bisa menimbulkan kanker paru-paru.
BACA JUGA:BMKG Klaim Arus Mudik Lebaran 2022 Turun Polusi Udara di Jakarta
Sebuah studi pada tahun 2000-2016 menemukan hubungan antara kejadian kanker paru-paru dengan paparan polusi udara dari pembangkit listrik tenaga uap batu bara.
(Dyah Ratna Meta Novia)