Penyakit Demensia Alzheimer Hanya 5 Persen Faktor Keturunan

Antara, Jurnalis
Minggu 29 Mei 2022 17:02 WIB
Penyakit demensia alzheimer (Foto: Istock)
Share :

AHLI Penyakit Saraf Indonesia dr Andreas Harry SpS (K) mengatakan, penyakit demensia-alzheimer ternyata hanya sekitar lima persen yang disebabkan karena faktor familial atau turunan,

"Sedangkan 95 persen lainnya karena faktor sporadis atau didapat, yakni dengan faktor risiko lingkungan," katanya.

 

Membahas topik mengenal demensia-alzheimer, ia menjelaskan bahwa untuk Alzheimer's Disease (AD) sporadik dapat dicegah dengan pola nutrisi yang baik.

Demensia dalam pengertian umum dikenal sebagai penyakit kepikunan.

Selain itu, katanya, dalam pencegahan juga memerlukan pola olahraga, pola pengendalian emosi, pola tidur, dan juga pola pikir yang baik

Menurut neurolog lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) Surabaya itu pada gejala klinis yang sifatnya turunan dan sporadis sebenarnya sama persis.

Hanya saja, kata dia, yang membedakan hanyalah pada persoalan "onset" saja.

Pada kelompok turunan, katanya, biasanya di bawah usia 65 tahun (early onset), sedangkan sporadis terjadi di atas 65 tahun (late onset).

"Perbedaannya di patofisiologi terbentuknya amyloid beta 40 dan 42," katanya.

Ia menambahkan untuk faktor risiko pada umur di atas 65 tahun ditandai dengan gangguan kognitif ringan. Sindroma demensia lainnya yakni bersifat gender di mana wanita lebih banyak mengalami.

 BACA JUGA:Gaya Hidup Sehat Cegah Demensia, Lakukan Sejak Dini Yuk!

Faktor lainnya, yakni trauma kepala, diabetes mellitus atau kencing manis, stroke, diet berlebihan dan hipertensi

Menurut dia ada juga gejala klinis yang ditandai dengan 3 stadium, yakni stadium 1 "mild stage", berupa gangguan memori ringan hingga berat, gangguan bahasa, gangguan emosi dan lainnya.

Lalu, stadium moderate, ditambah depresi, halusinasi visual, delusi dan psikosis.

Sedangkan yang ketiga, stadium "severe" berupa "bed ridden" hingga menuju kematian.

Menurut dia dengan mengetahui gejala dari sindroma tersebut maka perlu dilakukan berbagai upaya, seperti pengobatan, simptomatik, imunoterapi antibodi dan umunisasi.

"Namun, untuk imunisasi bagi pasien alzheimer-demensia ini masih dalam penelitian," demikian terang Andreas Harry.

(Dyah Ratna Meta Novia)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Telusuri berita Women lainnya