UKRAINA - Platform penyewaan penginapan Airbnb dan biro perjalanan dalam jaringan Bookin berhenti beroperasi di Rusia, mengikuti perusahaan lainnya yang memberikan sanksi kepada negara tersebut.
CEO Airbnb Brian Chesky mencuit soal penundaan ini. Dia mengaitkan langkah ini dengan nama perusahaan besar lainnya, seperti General Motors C, Boeing Co dan Alphabet Inc, dikutip dari Reuters.
"People memesan Airbnb di Ukraina. Mereka tidak bermaksud tinggal hanya ingin membantu tuan rumah," kata Chesky.
Berdasarkan data dari Airbnb, lebih dari setengah malam itu dipesan oleh orang Amerika. Selain dari Amerika, ada juga pesanan dari Inggris dan Australia.
Seruan bagi para tamu untuk memesan Airbnb di Ukraina dimulai secara online, di mana para pendukung mendesak orang-orang untuk memesan kamar sedekat mungkin dengan tanggal check-in untuk memastikan tuan rumah menerima biaya dengan cepat. Airbnb biasanya mengeluarkan pembayaran sekitar 24 jam setelah tamu check-in.
Penyelenggara kampanye juga mendesak orang untuk memastikan penyewaan dioperasikan oleh individu dan bukan perusahaan. Warga New York City Anne Margaret Daniel melihat postingan Airbnb di media sosial dan langsung beraksi.
Selain itu, Airbnb juga berhenti beroperasi di Belarusia. Airbnb sebelumnya mengatakan menawarkan tempat tinggal sementara untuk 100.000 irang yang keluar dari Ukraina, melalui lembaga nirlaba mereka.
Sama seperti Airbnb, Booking Holdings Inc juga menghentikan kegiatan mereka di Belarusia.
"Setiap hari belalu, urgensi perang di Ukraina semakin meningkat, begitu jgua dengan kerumitan melakukan bisnis kawasan itu," kata CEO Booking, Glenn Fogel, melalui unggahan di LinkedIn.
(Kurniawati Hasjanah)