PREVALENSI demam tifoid atau tipes di Indonesia yang cukup tinggi menyebabkan penyakit tersebut masih tergolong penyakit endemik di Indonesia.
Penyakit tipes sering dianggap sebagai penyakit yang disebabkan oleh kelelahan karena aktivitas padat. Padahal faktanya, tipes disebabkan oleh makanan yang terkontaminasi bakteri Salmonella Typhi.
Persoalan demam tifoid ini pernah dipaparkan Sanofi Pasteur Indonesia dalam rangka menyambut peringatan Hari Kesehatan Nasional melalui kampanye #SantapAman.
Program yang dihadiri oleh Dokter Spesialis Penyakit Dalam, dr. Suzy Maria, Sp.PD-KAI serta chef dan pecinta kuliner William Gozali yang akrab disapa Willgoz ini, bertujuan untuk mensosialisasikan bahwa seseorang bisa menderita penyakit yang ditularkan melalui makanan seperti penyakit tifoid, sekaligus bagaimana cara pencegahannya.
Menurut Dokter Suzy, terdapat banyak cara mengapa seseorang bisa tertular bakteri bakteri Salmonella Typhi. Pertama, melalui risiko dari orang yang menyiapkan makanan.
Seorang koki atau chef bisa menularkan penyakit demam tifoid melalui makanan yang disiapkan jika ia tidak bisa menjaga kebersihan tangannya terutama setelah menyentuh toilet atau permukaan benda lainnya yang telah terkontaminasi oleh feses orang pengidap demam tifoid.
Tak hanya itu, pengolahan makanan yang salah seperti menggunakan pisau yang sama untuk memotong sayur dan daging serta mencuci bahan makanan dengan menggunakan air yang terkontaminasi bakteri Salmonella Typhi juga bisa meningkatkan risiko seseorang tertular penyakit demam tifoid.
Lalu, penularan bisa terjadi saat kontak langsung dengan pembawa bakteri Salmonella Typhi. Seseorang yang menderita demam tifoid atau yang tidak menderita demam tifoid bisa saja memiliki bakteri Salmonella Typhi di tangannya tanpa ia ketahui. Hal tersebut bisa disebabkan karena menyentuh benda-benda yang telah terkontaminasi bakteri tersebut hingga tidak mencuci tangan dengan bersih setelah dari toilet.
Penularan demam tifoid bisa terjadi ketika kita melakukan kontak langsung dengan orang tersebut. Misalnya saja ketika berjabat tangan dengan mereka, bakteri jelas bisa berpindah ke tangan kita, dan jika kita tidak mencuci tangan terlebih dahulu sebelum makan, bakteri Salmonella Typhi bisa dengan mudah masuk ke dalam tubuh.
Penularan penyakit juga dapat terjadi saat berbagi makanan atau jika orang tersebut menyentuh makanan yang akan dimakan bersama tanpa membersihkan tangannya terlebih dahulu.
Oleh karena itu, terang Dokter Suzy, selain menjaga sanitasi dan higienitas pribadi, dan menghindari kontak dengan penderita, seseorang bisa melakukan vaksinasi tifoid sebagai langkah optimal untuk mencegah demam tifoid dan agar bisa tetap santap aman menikmati makanan favorit.
Baca juga: Cegah Tipes, Anak Usia 2 hingga 11 Tahun Bisa Disuntik Vaksin Vi-DT
“Vaksinasi dapat dilakukan mulai usia dua tahun ke atas dan untuk mendapatkan perlindungan maksimal, seseorang direkomendasikan mendapat vaksinasi tifoid setiap tiga tahun sekali,” ujar Dokter Suzy.
(Dyah Ratna Meta Novia)