JAKARTA - Suku Bo dan Guyur di kawasan China Selatan memiliki tradisi gantung peti di tebing untuk memakamkan jenazah anggota sukunya.
Melansir China.org.cn pada Selasa (30/11/2021), tradisi ini dilakukan sebagai simbol keikhlasan melepaskan sanak saudara atau keluarga yang meninggal dunia.
Suku Bo dan Guyur menyakini apabila menggantungkan peti mati di tempat tinggi di sisi gunung bisa memungkinkan jenazah naik ke surga dengan mudah.
Baca Juga:
Rekomendasi 15 Tempat Wisata di Samarinda, Banyak Spot Foto Kekinian
Mesin Pesawat Alaska Airlines Terbakar di Udara, Semua Penumpang Selamat
Tak hanya itu, menggantungkan peti membuat jenazah tak rentan hancur. Tanah yang digunakan untuk lahan pertanian juga tidak berkurang.
Peti mati yang digantung memiliki ukuran berbeda, sebagian besar dari kayu yang diukur. Biasanya peti itu diletakkan di antara celah pegununungan dan ada juga di dalam goa menghadap ke tebing.
Laporan survei dari awal 1990-an menunjukkan Kabupaten Gongxian memiliki total 280 peti mati gantung. Meski demikian, hampir 20 peti terjatuh dari posisinya dalam 10 tahun terakhir. Peti mati digantung setidaknya 10 meter di atas tanah dengan yang tertinggi mencapai 130 meter.
Kurator Museum Yibin, Cui Chen memaparkandua cara berbeda untuk meletakkan peti mati yang tergantung. Diantaranya akses menggunakan jalur landai dan menggunakan tali. Namun demikian, sampai saat ini masih menjadi misteri bagaimana cara mereka menggantungkan peti mati di tebing.
Dahulu ada ratusan peti mati gantung di provinsi Sichuan, Yunnan dan Guizhou. Namun, banyak yang jatuh ke lembah dan sungai yang terletak di bawahnya.
(Kurniawati Hasjanah)