BELUM lama ini masyarakat dihebohkan dengan keberhasilan pasangan suami istri Aisyah Fiyanti dan Rifki untuk memperoleh keturunan. Mereka sukses mendapatkan anak keduanya melalui proses Frozen Embryo Transfer (FET) pada 2021.
Kabar bahagia tersebut diungkapkan langsung lewat postingan foto Instagram Obstetrician Gynecologist (OBGYN), dr. Benediktus A,MPH,Sp.OG(K), @drbennyarifin beberapa waktu lalu.
Merangkum dari Life Fertility, Senin (15/11/2021), frozen embryo transfer, memiliki arti mencairkan satu atau lebih embrio (dibekukan selama siklus perawatan sebelumnya) dan mentransfer embrio tersebut ke rahim untuk mencoba membangun kehamilan.
Kapan FET direkomendasikan?
Metode FET direkomendasikan ketika ovarium dirangsang dalam siklus IVF atau ICSI. Pada masa ini, ovarium menghasilkan banyak telur untuk inseminasi dan mengarah pada terbentuknya embrio yang sehat. Hanya ada satu atau dua embrio yang akan segera dipindahkan ke rahim, sisanya dapat dibekukan untuk digunakan dalam siklus IVF lain.
Embrio yang dibekukan itu dapat digunakan jika transfer pertama tidak menghasilkan kehamilan, atau ketika seseorang ingin kembali memiliki anak di lain waktu. Kadang-kadang seorang wanita yang menjalani perawatan IVF akan disarankan untuk membekukan semua embrionya.
Baca juga: Alquran dan Sains Jelaskan Terciptanya Embrio dalam Reproduksi Manusia
Dokter akan menyarakan untuk tidak mentransfer embrio tersebut jika lapisan rahim belum berkembang ke tahap yang sesuai atau jika sang ibu berisiko mengembangkan sindrom hiper-stimulasi ovarium (OHSS).
Biasanya spesialis kesuburan akan merekomendasikan agar membekukan semua embrio pasien sampai keadaan rahim lebih alami selama siklus selanjutnya. Sebab pada masa tersebut, mungkin peluang untuk membangun kehamilan akan jauh lebih baik.
Embrio yang dibekukan juga merupakan peluang potensial bagi seorang wanita yang ingin menunda kehamilan hingga akhir usia 30-an atau awal 40-an.
Berapa tingkat keberhasilan FET?
Tingkat keberhasilan kehamilan tergantung pada sejumlah faktor, salah satunya adalah usia wanita. Beberapa embrio atau mungkin semua embrio tidak akan bertahan dari proses pembekuan dan pencairan jika sel rusak. Tingkat kelangsungan hidup embrio beku lebih dari 90 persen jika embrio dibekukan dengan 'vitrifikasi' pada tahap blastokista (5-6 hari setelah pembuahan).
Jika embrio dibekukan pada tahap awal dengan 'pembekuan lambat', maka memiliki peluang sekira 80 persen untuk bertahan dari proses pembekuan dan pencairan. Jika embrio yang divitrifikasi pada tahap blastokista dicairkan dan dipindahkan, maka memiliki tingkat keberhasilan yang kira-kira sama dengan embrio segar.
Tidak ada bukti bahwa embrio yang dibekukan dan dicairkan menghasilkan lebih banyak keguguran atau kelainan.
(Dyah Ratna Meta Novia)