COVID-19 varian C.1.2 yang pertama kali teridentifikasi di Afrika Selatan mendapat perhatian dunia karena dianggap memiliki tingkat mutasi yang luar biasa tinggi. Berdasar hasil studi para peneliti di National Institute for Communicable Diseases (NICD) Afsel dan KwaZulu-Natal Research Innovation and Sequencing Platform, varian C.1.2 memiliki tingkat mutasi sekira 41,8 per tahun.
Jumlah tersebut hampir dua kali lipat dibandingkan tingkat mutasi global saat ini yang diamati pada variant of concern (VOC) lainnya. Varian baru covid-19 ini sudah dilaporkan kejadiannya di banyak negara seperti di Republik Demokratik Kongo, Mauritius, China, Selandia Baru, Inggris, Swiss, dan Portugal.
Baca juga: Muncul Varian C.1.2 Asal Afrika Selatan, Lebih Berbahaya dari Delta?
Terkait kekuatan varian C.1.2 terhadap antibodi, peneliti NICD Penny Moore menerangkan bahwa data sampai saat ini belum cukup kuat memberikan gambaran bagaimana reaksi varian ini dalam hal sensitivitas terhadap antibodi.
"Tetapi kami sangat yakin bahwa vaksin yang ada sekarang akan terus melindungi manusia dari penyakit parah dan kematian," terang Moore, dikutip dari laman Aljazeera, Selasa (31/8/2021).
Ia menambahkan bahwa varian C.1.2 akan tetap menjadi varian minoritas di Afrika Selatan. "Meski memiliki beberapa mutasi yang menjadi perhatian kami, varian ini memiliki varian yang sudah kami identifikasi sebelumnya seperti dalam varian Beta dan Delta," tuturnya.
Baca juga: Dugaan Kebocoran Data, Kemenkes Minta Uninstall eHAC yang Lama
Artinya, para peneliti memiliki pemahaman dari studi sebelumnya tentang apa yang dapat dilakukan berdasar pengamanan yang sudah dilakukan dan dari bagaimana perilaku varian ini terhadap vaksin.
"Meski varian ini muncul dan mengkhawatirkan, kami dapat pastikan semua vaksin mampu mempertahankan kemanjurannya terhadap keparahan penyakit dan kematian," tambahnya.
Di sisi lain, menurut Pejabat Direktur Eksekutif NICD Profesor Adrian Puren menegaskan bahwa kemunculan varian C.1.2 adalah peringatan dini yang bisa timnya berikan untuk dunia.
Baca juga: Waduh, Data di Aplikasi eHAC Kemenkes Diduga Bocor
"Kami tidak ingin terus terjebak, tetapi kami juga ingin menghilangkan kekhawatiran dan tidak membuat panik. Kami dapat mengatakan bahwa vaksin yang ada sekarang itu cukup kuat dan efektif. Intervensi non-farmasi juga tetap penting," paparnya di laman Sowetanlive.
"Terus memvaksin sebanyak mungkin orang adalah kunci dalam mengalahkan pandemi. Makin hari akan terus ada mutasi virus dan karena itu penting bagi setiap orang menerima vaksin," tambah dia.
(Hantoro)