PANDEMI covid-19 sudah 1 tahun lebih melanda Indonesia. Meski demikian, masih ada saja masyarakat yang tidak percaya. Bahkan, hal tersebut disebar ke media sosial hingga membuat masyarakat menjadi makin resah.
Influencer kesehatan sekaligus dokter relawan covid-19 Muhamad Fajri Adda'i coba menjawab stigma yang menyebut covid-19 hanyalah akal-akalan dan rekayasa semata. Hal tersebut ia ungkapkan lewat unggahan di akun Instagram-nya @dr.fajriaddai.
Baca juga: Dokter Relawan Covid-19 Ungkap Hoaks soal Lepas Masker Usai Divaksin
"Hingga saat ini tidak ada bukti ilmiah yang menyatakan bahwa covid-19 ini adalah rekayasa. Termasuk pula tidak ada bukti bahwa virus ini buatan laboratorium. Kasus covid-19 cepat meningkat karena dapat ditularkan oleh pasien tanpa gejala sehingga cukup sulit mencegah penularannya di masyarakat. Apalagi bila mobilitas masyarakatnya tinggi," terang dr Fajri.
Selain itu, beredar kabar di media sosial terkait masyarakat yang tidak percaya dengan alat Polymerase Chain Reaction (PCR) yang biasa digunakan untuk mendeteksi covid-19. Kabar tersebut bahkan menganggap PCR bukanlah alat diagnostik.
Berdasarkan informasi dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), dalam paten PCR tahun 1987 disebutkan bahwa tes PCR memang diperuntukkan salah satunya untuk diagnosis berbagai macam penyakit menular.
Baca juga: Waspada! Ini 9 Mitos Makanan yang Bisa Sembuhkan Covid-19
Selain covid-19, sampai saat ini tes PCR telah digunakan untuk membantuk diagnosis infeksi HIV, Hepatitis C, Hepatitis B, Cytomegalovirus, infeksi Human Papilomavirus (HPV), Gonore, Klamidia, penyakit Lyme, dan Pertusis (batuk rejan).
"Tes PCR mendiagnosis penyakit menular dengan mendeteksi materi genetic virus atau bakteri yang ada di tubuh pasien," tambah dr Fajri.
(Hantoro)