LEDAKAN kasus Covid-19 terus memberikan tekanan bagi para tenaga kesehatan (nakes) yang bertugas. Tak hanya tekanan, banyak dari nakes yang gugur saat bertugas untuk menyelamatkan nyawa para pasien. Bahkan berdasarkan data yang dihimpun oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), sudah ada 373 orang perawat yang meninggal dunia usai bertugas.
Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia (DPP PPNI), Harif Fadhilah S.Kp, SH, M.Kep, MH menyebut bahwa dari sekian banyak perawat yang meninggal dunia, Jawa Timur menyumbangkan angka kematian yang paling tinggi bagi tenaga kesehatan perawat yakni mencapai 140 orang.
Dari 373 perawat yang meninggal, 140 perawatnya berasal dari Jawa Timur. Pada Juli saja Jawa Timur sudah 22 orang yang meninggal, tepatnya dari tanggal 1-9. Ini luar biasa dan sangat menyedihkan. Dan kalau yang terkonfirmasi, kami punya data di Juni berdasarkan laporan secara volunter melalui link, tidak lebih dari 500 orang,” kata Harif, dalam sesi jumpa pers secara daring, Jumat (9/7/2021).
Baca Juga : Ketum IBI: Hampir 40 Bidan Meninggal dalam Seminggu Terakhir
Meski demikian, Harif yakin bahwa secara faktual jumlah tenaga perawat yang terkonfirmasi Covid-19 bisa lebih dari 15 ribu orang. Sebab menurutnya, sejumlah rumah sakit mengaku bahwa lebih dari 25 persen perawatnya terkonfirmasi Covid-19. Pada kesempatan tersebut, Harif pun menjelaskan sejumlah masalah besar yang tengah dihadapi para tenaga perawat saat ini.
“Jadi saya pikir sudah ada belasan ribu perawat yang terkonfirmasi Covid-19. Ada dua masalah besar yang dihadapi, yang pertama adalah lonjakan kasus yang terkonfirmasi sejak Mei, pasti memberikan probabilitas orang yang membutuhkan fasyankes pasti lebih banyak. Di satu sisi nakes terkonfirmasi membuat rumah sakit harus mengurangi jumlah tenaga yang bertugas,” sambungnya.
Menurutnya, jumlah nakes yang sedang berjuang melawan ledakan kasus Covid-19 di Tanah Air adalah mereka yang bertugas dengan tenaga kesehatan yang tersisa ditambah dengan jumlah kasus yang meningkat.
“Jadi bisa dibayangkan berat beratnya beban yang ditanggung teman-teman kami. Tak hanya beban fisik, melainkan beban mental,” tuntasnya.
(Helmi Ade Saputra)