PENGGUNAAN GeNose sebagai teknologi baru dalam skrining covid-19 mendapat banyak reaksi dari para pengamat. Pasalnya, GeNose sudah digunakan untuk publik, padahal belum ada kajian ilmiah yang dipublikasikan mengenai efektivitas dari teknologi ini.
Saat ini GeNose telah digunakan sebagai alat untuk melakukan skrining covid-19 kepada penumpang yang hendak bepergian menggunakan kereta api. Rencananya GeNose juga digunakan di pelabuhan dan bandara dalam waktu dekat.
Baca juga: Gunakan Skrining GeNose ke Publik Sebelum Ada Kajian Ilmiah, Epidemiolog: Saya Prihatin
Epidemiolog dari Universitas Griffith Australia, dr Dicky Budiman, mengatakan seharusnya pemerintah Indonesia berkaca dengan alasan negara maju yang tidak menggunakan metode seperti ini untuk melakukan skrining covid-19.
"Kenapa negara semaju Australia, Amerika, dan negara di Eropa tidak menggunakan itu jauh lebih dulu dibanding kita? Malah mereka lebih ke arah rapid test antigen yang dibuat lebih cepat. Ada juga saliva dan mengapa tidak ke tes napas?" ujar dr Dicky saat dihubungi MNC Portal, Rabu (24/2/2021).
Baca juga: Mike Tyson Doakan Tiger Woods Lekas Pulih Usai Alami Kecelakaan Tragis
Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa ini merupakan pertanyaan retorik yang sudah bisa tebak arahnya. Artinya, secara efektivitas kemudian dari sisi validitas, cara ini belum memadai secara ilmiah.
"Ini yang penting. Jadi, kita tidak bisa melakukan skrining asal skrining. Kita itu harus melakukan skrining yang punya rujukan ilmiah," tuntasnya.
(Hantoro)