Beberapa relawan uji coba vaksin Covid-19 Pfizer mengaku merasa seperti mabuk berat usai disuntikkan. Laporan ini dirilis di New York Post.
Kabar ini tentu mengagetkan publik, karena sebelumnya Pfizer mengeluarkan pernyataan bahwa vaksin Covid-19 ciptaannya memiliki efektivitas hingga 90 persen.
Dalam uji coba fase 3 vaksin Covid-19 ini, Pfizer melibatkan 43.500 orang di enam negara. Kesemua relawan tidak mengetahui apakah ia disuntikkan vaksin Covid-19 atau plasebo. Sebab, uji klinis dilakukan dalam tes acak.
Nah, usai diberi suntikkan, para relawan melaporkan muncul beberapa gejala seperti sakit kepala, demam, dan nyeri otot, menurut laporan Sun.
Seorang relawan, Texan Glenn Deshields, mengatakan bahwa gejala 'mabuk berat' yang ia laporkan sejatinya segara pulih. Tapi, setelah dia melakukan tes antibodi, hasilnya positif Covid-19.
Sementara itu, setelah Pfizer memberikan pernyataan bahwa vaksin buatan mereka efektivitasnya 90 persen, Deshields mengaku sangat bahagia. Ia bahkan merasa seperti akan merdeka dari perang.
"Dalam pikiranku, aku merasa hal yang sama. Aku merasa akan segera menang melawan perang ini. Terima kasih Tuhan, ini akan berakhir suatu saat," katanya.
Relawan lain yang hanya mau menyebutkan namanya, Carrie mengatakan, ia menderita sakit kepala, demam, dan sakit di sekujur tubuhnya setelah suntikan pertama. Tapi, gejala lebih parah muncul di suntikan kedua.
Tapi, pria berusia 45 tahun asal Missouri itu mengatakan, keterlibatannya dalam uji coba vaksin Covid-19 ini ia nilai sebagai pengabdian warga sipil untuk kebaikan dunia.
Baca juga: Edward Snowden Ajukan Jadi Warga Negara Rusia
"Ada begitu banyak orang yang menderita dan kesakitan. Pemikiran bahwa kita dapat melakukan sesuatu untuk menghentikan orang dari penderitaan ini yang saya pegang. Kita bisa menyingkirkan masalah ini dan kembali hidup normal. Itu alasan terbesar saya terlibat dalam uji coba vaksin Covid-19 ini," terangnya.
"Saya tidak ingin orang lain sakit," tambahnya.
(Dyah Ratna Meta Novia)