Badan Kesehatan Dunia (WHO) dengan anggota Organisasi Access to Covid-19 Tools (ACT) Accelerator lainnya baru saja mengeluarkan serangkaian perjanjian untuk menyediakan Rapid Test berkualitas dengan harga terjangkau, yang rencananya akan dijual ke negara berpenghasilan rendah dan menengah.
Anggota ACT lainnya yang terlibat dalam projek ini antara lain Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika (CDC Afrika), Bill & Melinda Gates Foundation, Clinton Health Access Initiative (CHAI), Foundation for Innovative New Diagnostics (FIND), Global Fund, dan Unitaid.
Sebagai bagian dari upaya menyeluruh, diketahui bahwa Bill & Melinda Gates Foundation telah melaksanakan perjanjian jaminan volume terpisah dengan produsen uji diagnostik cepat atau Rapid Test yaitu dengan Abbott dan SD Biosensor.
Dari kedua perjanjian tersebut, lahir 120 tes diagnostik Rapid Test dengan harga minimum USD $5 atau sekitar Rp74 ribuan per unit selama periode enam bulan. Rapid Test yang dijual mereka itu memiliki klaim hasil keluar hanya dalam waktu 15-30 menit, tidak lagi dalam hitungan jam atau hari.
Dengan karakteristik Rapid Test tersebut, diyakini akan memberi dampak yang sangat baik untuk upaya perluasan pengujian, pengendalian persebaran virus, terutama di negara-negara yang tidak memiliki fasilitas laboratorium yang luas atau petugas kesehatan terlatih untuk melaksanakan tes molekuler (Tes PCR).
Dalam laporan WHO yang dipublikasi pada Senin (28/9/2020), dijelaskan bahwa Rapid Test keluaran Abbott dan SD Biosensor tersebut diklaim sangat portabel, andal, dan mudah dijalankan, sehingga pengujian dapat dilakukan di dekat orang, sehingga pengaturan perawatan kesehatan terdesentralisasi.
Klaim lainnya yang dijelaskan WHO adalah Rapid Test keluaran Abbott dan SD Biosensor itu lebih cepat dan lebih murah daripada tes berbasis laboratorium. Ini memungkinkan negara untuk meningkatkan kecepatan pengujian, melacak dan merawat pasien Covid-19 di titik perawatan, terutama di daerah dengan sistem kesehatan yang kekurangan sumber daya.
"Untuk meningkatkan jumlah ketersediaan Rapid Test, Global Fund mengumumkan telah menyediakan US $50 juta, sebagai awal dari Covid-19 Response Mechanism untuk memungkinkan negara-negara membeli setidaknya 10 juta Rapid Test, dengan pesanan pertama diharapkan dilakukan pada minggu ini melalui mekanisme pengadaan gabungan Dana Global," lapor WHO.
Baca Juga : Cantiknya Amanda Manopo Pakai Dress Kupu-Kupu, Bang Billy: Baby I Like It
Lebih lanjut, FIND dan WHO bekerja sama mendukung penelitian implementasi yang akan mengoptimalkan Rapid Test di negara berpenghasilan rendah dan menengah tersebut, sejalan dengan pedoman WHO. Di dalamnya termasuk penyediaan tes volume katalitik untuk memahami bagaimana Rapid Test cocok dengan sistem kesehatan.
Kemudian, peran CDC Afrika dan Unitaid di projek ini yaitu menggabungkan sumber daya untuk memulai peluncuran tes di lebih dari 20 negara di Afrika mulai Oktober 2020. Projek ini pun dirancang untuk melibatkan banyak mitra yang aktif dalam respons Covid-19 di negara-negara Afrika. Organisasi tersebut seperti CHAI, African Society for Laboratory Medicine (ASLM), dan organisasi lokal.
Hla tersebut diyakini dapat mendukung upaya Kemitraan Uni Afrika untuk mempercepat pengujian Covid-19 (PACT) yang diluncurkan pada Agustus 2020 untuk memobilisasi para ahli, pasokan, dan sumber daya lain dalam meminimalkan dampak pandemi di benua Afrika.
Di sisi lain, dalam laporan WHO ini dijelaskan bahwa tindakan pengujian yang diperluas memungkinkan negara-negara melacak dan mencegah virus terus menyebar antarorang. Selain itu, testing juga dilakukan untuk mempersiapkan peluncuran vaksin jika sudah tersedia.
"PCR Test yang hadir di awal wabah menyebar mengandalkan infrastuktur dan personel terlatih untuk melakukannya. Namun, Rapid Test dilakukan untuk mendeteksi keberadaan virus yang lebih cepat dan lebih murah. Ini tambahan testing yang penting untuk persenjataan pengujian yang diperlukan untuk mencegah dan melawan Covid-19," lapor WHO.
Selain fungsi di atas, WHO pun mengklaim Rapid Test diperlukan untuk membantu mengidentifikasi atau mengkonfirmasi wabah baru, mendukung investigasi wabah melalui penyaringan; pemantauan tren penyakit; dan berpotensi menguji kontak dekat para pasien tanpa gejala (OTG).
"Perjanjian ini sangat penting untuk memenuhi tujuan utama ACT-Accelerator yaitu untuk memastikan semua negara, terlepas dari pendapatannya, memiliki akses yang adil atas tes dan alat baru untuk memerangi Covid-19," tambah laporan tersebut.
Direktur Jenderal WHO Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus menjelaskan bahwa Rapid Test ini sangat penting untuk mencari keberadaan virus di tengah masyarakat. Dengan pelacakan yang cepat, diharapkan tindakan isolasi kontak dekat bisa segera dilakukan dan penyebaran virus bisa dihentikan.
"Rapid Test berkualitas tinggi menunjukkan kepada kita di mana virus bersembunyi, yang merupakan kunci untuk melacak dan mengisolasi kontak dekat dengan cepat, serta memutus rantai penularan. Test ini pun penting bagi pemerintah yang ingin ekonominya membaik, sejalan juga dengan upaya menyelamatkan nyawa manusia," kata Dr Tedros.
Selain Tedros, beberapa tokoh penting dalam organisasi ACT-Accelerator pun menyampaikan pandangannya terhadap perjanjian ini. Satu benang merah mereka yaitu dengan adanya Rapid Test ini diharapkan bisa membantu negara-negara melacak Covid-19 dengan cara yang murah dan cepat.
Sementara itu, Direktur Laboratorium Mikrobiologi Klinis di Vanderbilt University Medical Center, dr. Romney Humphries, Ph.D, beranggapan bahwa Rapid Test memiliki akurasi deteksi 75-80 persen. Sedangkan PCR Test, akurasinya bisa mencapai 90-95 persen. Ini yang menjadi kekurangan dari Rapid Test Covid-19.
Karena itu, menjadi sebuah fakta ketika hasil Rapid Test Covid-19 menyatakan non-reaktif tetapi sejatinya di dalam tubuh pasien terdapat virus SARS-CoV2 penyebab Covid-19.
"Kemampuan Rapid Test untuk mengidentifikasi dengan benar mungkin tidak selalu relevan secara klinis. Ini bisa terjadi karena tingkat virus di dalam tubuh seseorang sangat rendah, sehingga tak 'terbaca' Rapid Test," paparnya dikutip dari New York Post.
Tingkat virus yang rendah ini maksudnya adalah kondisi saat pasien baru mulai terpapar virus sehingga infeksi yang terjadi belum begitu parah. "Saat virus sudah mereplikasi menjadi semakin banyak, di situlah dikatakan tingkat viral load tinggi," terang dia.
Dengan fakta tersebut, dr Humphries pun mengkhawatirkan potensi terjadinya penyebaran virus yang lebih masif karena status 'bebas corona' yang tak valid dari Rapid Test Covid-19.
(Helmi Ade Saputra)