Alasan Obat dengan Efek Samping Tetap Diberikan ke Pasien

Muhammad Sukardi, Jurnalis
Rabu 19 Agustus 2020 19:59 WIB
Ilustrasi (Foto : Thehealthy)
Share :

Salah satu yang menjadi pusat perhatian dari uji klinik tahap 3 obat Covid-19 Unair adalah adanya efek samping. Menjadi kekhawatiran tersendiri ketika obat kombinasi baru ternyata memiliki efek samping.

Informasi ini beredar setelah Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Penny K. Lukito menjelaskan bahwa hasil uji klinik tahap 3 obat Covid-19 Unair sudah ada di tangan timnya. Dia menjelaskan, perlu kehati-hatian dalam pengambilan keputusan dari hasil uji klinik ini, mengingat penggunaan obat kombinasi baru yang tidak tepat akan mengakibatkan risiko efek samping, resistensi, dan biaya yang tidak perlu.

"Hal lain yang perlu menjadi perhatian dalam memproduksi obat adalah bahwa obat kombinasi tersebut harus dapat diformulasi dengan baik dan tidak menimbulkan inkompatibilitas baik secara kimia maupun fisik. Industri Farmasi yang akan memproduksi harus telah memiliki sertifikat Cara Produksi Obat yang Baik (CPOB)," tutur Penny di konferensi pers Perkembangan Uji Klinik Obat Kombinasi Baru untuk Covid-19, Rabu (19/8/2020).

Di sisi lain, Anggota KOMNAS Penilai Obat Prof. Rianto Setiabudi, Sp.FK (K) menjelaskan bahwa efek samping yang melekat di suatu obat merupakan bukan faktor satu-satunya untuk tim penilai menolak obat tersebut. "Itu karena, yang kami timbang adalah pertimbangan risk benefit," paparnya di momen yang sama.

Baca Juga : Cantiknya Luna Maya Pakai Gaun Transparan, Bikin Netizen Mau Pingsan!

Hal ini bisa dilihat pada kasus obat antikanker. Masyarakat kebanyakan sudah tahu bahwa obat yang satu ini masuk ke dalam kelompok obat dengan efek sampig yang dahsyat sekali.

"Itu bisa dilihat dari sering kali pasien yang mengonsumsi obat antikanker mengalami kondisi rambut rontok, enggak mau makan, luka di mana-mana. Tapi, kenapa kami tetap setujui? Karena obat antikanker bisa memperpanjang hidup pasien sekian bulan atau sekian tahun," ungkap Prof Rianto.

Dia pun coba memohon kepada publik agar dimengerti bahwa efek samping yang ada di dalam obat itu tidak merupakan satu-satunya pertimbangan.

Selain itu, sering kali efek samping pada obat bisa dimitigasi dengan jalan memodifikasi dosis. "Misalnya dengan mengurangi dosisnya, pemberiannya sesudah makan, atau cara lainnya. Jadi untuk menlai hal ini, diharap semua orang mesti berpikirnya luas," pungkas dia.

(Helmi Ade Saputra)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya