ANGKA kasus positif Covid-19 terus bertambah setiap harinya. Bahkan, angka positif corona di Indonesia sudah melampaui angka penderita Covid-19 di China.
Pertambahan kasus ini dinilai dokter Tirta karena edukasi mengenai Covid-19 masih belum maksimal. Menurutnya, penggunaan istilah bahasa Inggris seperti physical distancing, new normal, dan lain sebagainya sulit dimengerti masyarakat awam.
Penggunaan istilah yang menggunakan bahasa Inggris ini dinilai tidak tepat di Indonesia. Karena Indonesia terdiri dari berbagai budaya yang memiliki bahasa, dan tingkat pendidikan yang berbeda.
"Jadi kami para nakes (tenaga kesehatan) itu setuju kalau komunikasi yang dilakukan pemerintah pasif. Alih-alih kita menggunakan bahasa Indonesia, kita menggunakan bahasa inggris," ujar dokter Tirta melalui diskusi virtual, Minggu (9/8/2020).
Hal ini terjadi ketika dirinya melakukan kunjungan ke beberapa wilayah, seperti salah satunya Surabaya. Di sana, dia mengatakan bahwa ternyata masyarakat Surabaya belum paham mengenai makna dari physical distancing.
"Saya menemui Bonek, sampai buat kelompok edukasi yang menghadap ke bu Risma. Ternyata masyarakat enggak mengerti physical distancing itu apa. Ini kan kita mengedukasi sesuai kearifan lokal, yang belum dilaksanakan sama Kemenkes," jelasnya.
Oleh karena itu, dokter Tirta berharap agar Kemenkes sebagai garda terdepan dapat memberikan edukasi kepada masyarakat berdasarkan kearifan lokal. Karena jika menggunakan istilah bias, kemungkinan besar hanya masyarakat perkotaan saja yang mengerti.
"Kalau bisa, alih-alih menggunakan new normal, mending gunakan adaptasi kebiasaan baru. Penggunaan istilah bias akhirnya menimbulkan kebingungan di masyarakat," pungkasnya.
(Martin Bagya Kertiyasa)