Pandemi Covid-19 tidak hanya merusak tubuh, tetapi terbukti memengaruhi pikiran. Dalam kasus ini, anak-anak banyak yang dilaporkan mengeluhkan mimpi buruk, seperti terserang penyakit bahkan mimpi meninggal dunia.
Menurut laporan advokasi berbasis di Inggris, Childhood Trust, anak-anak yang kurang mendapat perhatian atau kurang beruntung (miskin) lebih rentan terserang stres di tengah pandemi Covid-19. Hal ini yang membuat mereka melaporkan mimpi diserang penyakit atau meninggal dunia.
Padahal, beberapa anggapan mengemuka bahwa anak-anak lebih kuat dalam menghadapi masalah pandemi ini. Tapi, penelitian ini membuktikan bahwa pernyataan tersebut keliru dan bahkan anak-anak membutuhkan perhatian lebih di tengah pandemi sekarang.
Berbicara pada BBC, Laurence Guinness, kepala eksekutif organisasi tersebut, secara anekdot mengklaim bahwa banyak anak-anak telah mengalami “mimpi buruk yang jelas” tentang penyakit dan kematian selama wabah yang mana ini bagian dari gejala PTSD.
"Jumlah korban tewas yang dilaporkan setiap harinya memberikan akses bagi anak-anak mendapatkan informasi tersebut dan memengaruhi pikirannya," kata Guinness. Karena itu, lembaga advokasi ini mengharapkan percepatan penanganan Covid-19 di seluruh dunia.
Sebab, menurut Guinness, pandemi ini sangat berdampak pada keluarga miskin. Mereka tidak hanya dihadapkan penyakit mematikan yang ada di depan mata, tapi juga kemiskinan yang semakin mencekik hidupnya.
"Krisis ini melipatgandakan masalah yang dialami anak-anak dari keluarga miskin dan itu membuat mereka kelaparan, isolasi semakin buruk dan stigma yang berujung pada mudah stres," paparnya.
Di sisi lain, Adam Brown, asisten profesor klinis di Departemen Psikiatri Anak dan Remaja di NYU Langone, coba menguraikan tanda-tanda stres traumatis dalam sebuah artikel baru-baru ini.
Dalam laporan New York Post, Adam menjelaskan tanda-tanda stres itu ialah kecemasan, kebingungan, atau kesedihan. Reakdi emosional tersebut menunjukan stres traumatik yang menyebabkan PTSD. "Penyebabnya pandemi ini," tegasnya.
Baca Juga : Ini Cara Berjalan Kaki untuk Turunkan Berat Badan
Lebih lanjut, pandemi ini memberikan reaksi buruk pada anak-anak. Mereka kebanyakan menunjukan gejala-gejala seperti mimpi buruk yang mengganggu; perilaku cemas seperti mengompol dan lekas marah; ketidakmampuan untuk fokus atau kelupaan; dan manifestasi fisik dari rasa takut, seperti sakit perut dan sulit tidur.
"Bagi sebagian besar anak-anak yang menunjukkan stres traumatis, gejala-gejala ini kemungkinan akan sembuh dalam beberapa hari atau minggu, sementara beberapa mungkin memiliki dampak yang lebih tahan lama," kata Brown.
Tetapi apakah seorang anak membutuhkan perawatan, ia menerangkan itu bisa sulit untuk ditentukan selama penyebabnya masih berlangsung. "Ada baiknya konsultasikan anak Anda pada profesional supaya mendapatkan penyelesaian yang tepat," pungkasnya.
(Helmi Ade Saputra)