Memasuki New Normal, sektor pariwisata Indonesia pun mengalami sejumlah perubahan. Termasuk pemilihan target pasar yang akan disasar.
Bila sebelumnya porsi target wisatawan mancanegara (wisman) dan domestik tidak jauh berbeda yakni, 45% dan 55%, kini pemerintah sepakat untuk memperbesar porsi target wisatawan domestik menjadi 70%.
Hal tersebut dilakukan demi memprioritaskan wisatawan domestik yang diproyeksi akan menjadi penopang utama pariwisata dalam negeri. Kendati demikian, pemerintah juga melakukan pergeseran target pasar pada kategori wisman berdasarkan kelasnya.
Deputi Bidang Koordinasi Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Odo R.M. Manuhutu, mengatakan bahwa berdasarkan ratas (rapat terbatas) yang diselenggarakan beberapa waktu lalu, Menteri Kemenko Marves Luhut Panjaitan menyatakan bahwa pemerintah saat ini tengah menyasar wisman kelas A dan kelas B, bukan dari kalangan budget traveler (backpacker). Hal tersebut dilakukan mengingat harga tiket pesawat diprediksi melambung tinggi di era New Normal.
"Kalau kita lihat, ada penurunan secara global 40-50 persen pergerakan pesawat. Artinya, dalam pesawat itu ada pembatasan ruang. Harga tiket akan naik karena itu ongkosnya naik. pertanyaannya apakah Anda sebagai individu bersedia b secara virtual, Jumat 12 Juni 2020.
Baca Juga : Program Incity Dongkrak Minat Wisatawan Domestik Diiringi Protokol Kesehatan Ketat
Selain itu, wisatawan kelas A dan B juga dinilai memiliki length of stay dan daya beli yang cukup tinggi dibandingkan dengan budget traveler. Mereka bisa menetap 3-4 hari, namun spendingnya diklaim lebih besar.
"Itulah alasan saat ini kami mendorong quality tourism untuk menarik minat mereka. Karena menurut data penyedia jasa keuangan di Bali, dari tahun 2018-2019 jumlah wisman meningkat, tapi length of staynya menurun. Jadi harus dimanfaatkan dari spendingnya yang harus lebih besar," tandas Odo.
(Helmi Ade Saputra)