Anak dengan penyakit autoimun lebih mudah terkena pnyakit infeksi, termasuk Covid-19. Lalu, apa yang harus dilakukan untuk mencegahnya?
Sebelum itu, ketahui dahulu definisi keduanya, Covid-19 dan penyakit autoimun. Covid-19 adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus corona baru. Virus ini menyebar melalui droplet atau percikan cairan dari saluran napas.
Gejala Covid-19 dapat bervariasi dari ringan, seperti demam, batuk, pilek, nyeri tenggorokan, rasa tidak enak badan hingga gejala berat seperti radang paru-paru (pneumonia).
Sedangkan, penyakit autoimun adalah sekumpulan penyakit yang disebabkan oleh respon kekebalan tubuh yang menyerang diri sendiri sehingga menyebabkan kerusakan organ. Contoh penyakit autoimun yang sering dijumpai pada anak adalah Lupus, penyakit radang sendi pada anak (juvenile idiopathic arthritis), penyakit radang otot pada anak (juvenile dermatomiosytis), skleroderma.
Bersumber dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan Kementerian Kesehatan RI, Anak dengan penyakit autoimun rentan terserang infeksi, termasuk Covid-19. Anak dengan penyakit automimun dapat mengalami gejala berat apabila terinfeksi Covid-19. Karenanya, penting melakukan pencegahan, apa yang harus dilakukan?
Putuskan mata rantai penularan virus corona melalui berbagai cara, yaitu :
1. Beraktivitas di dalam rumah saja (termasuk olahraga ringan sesuai kemampuan)
2. Menjaga kebersihan tangan (cuci tangan dengan sabun/cairan antiseptik)
3. Hindari memegang wajah, termasuk mata, mulut dan hidung sebelum mencuci tangan
4. Apabila sangat terpaksa harus keluar rumah, maka gunakan masker kain dan lakukan physical distancing (beri jarak minimal 1-2 meter dengan orang lain)
Bagaimana dengan pengobatan autoimun yang selama ini telah didapatkan?
Pengobatan autoimun harus tetap dilanjutkan sesuai dengan petunjuk dokter. Jangan mengubah dosis obat sendiri. Konsumsi obat secara teratur, konsumsi makanan bergizi seimbang, termasuk sayur dan buah, serta istirahat cukup.
Untuk pasien dengan pengobatan khusus seperti pemberian steroid pulse, CPA, atau obat khusus lainnya, konsultasikan jadwal pemberian dengan dokter yang merawat.
(Helmi Ade Saputra)