Ganjar Pranowo Minta Masyarakat Saling Bantu, Bukan Cari Sensasi

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis
Selasa 12 Mei 2020 22:03 WIB
Ilustrasi. (Foto: Okezone)
Share :

GUBERNUR Jawa Tengah Ganjar Pranowo tidak menampik bahwa berbagai kebijakan yang telah dikeluarkan pemerintah, belum mampu menekan penularan virus corona atau COVID-19 secara signifikan. Sementara di satu sisi, masyarakat sudah mulai lelah, bosan, bahkan sebagian di antara mereka ada yang marah melihat pandemi ini yang tidak juga membaik.

Oleh karena itu, Ganjar menegaskan bahwa pandemi COVID-19 ini, sejatinya tidak dapat diselesaikan secara konvensional atau sekadar intruksi dengan berbagai intrik dan sensasi di dalamnya.

"Yang harus kita camkan di lubuk hati yang terdalam, di masa pandemi bukan waktunya untuk mendulang sensasi, masyarakat membutuhkan kehadiran kita sepenuh hati, bukan sekedar intruksi," tegas Ganjar melalui sebuah video singkat yang disiarkan di channel Youtube BNPB, Selasa (12/5/2020).

Menyadari kondisi tersebut, Ganjar pun menjelaskan bahwa hingga saat ini, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah mengalokasikan dana senilai Rp2.09 triliun untuk penanganan COVID-19.

Dana tersebut digunakan untuk memenuhi berbagai keperluan dengan rincian sebagai berikut, Rp1,32 triliun untuk dana Jaring Pengamam Sosial (JPS), Rp183,5 miliar untuk jaring pengaman ekonomi, Rp68,5 miliar untuk bantuan keuangan desa, Rp425,14 miliyar untuk fasilitas kesehatan, Rp16.09 miliar untuk pengembalian pekerja migrant, dan Rp1,65 miliar untuk biaya operasional.

Kendati demikian, Ganjar menyadari bahwa kucuran anggaran tersebut tidak akan cukup dan mampu dalam menuntaskan pandemi COVID-19.

Maka dari itu, dia mengimbau masyarakat agar saling bahu membahu menyelesaikan permasalahan ini. Dia juga meminta agar pihak swasta juga ikut berperan, termasuk perguruan tinggi dan semua yang peduli secara pentahelix.

Dari skema tersebut, maka diluncurkanlah sebuah kebijakan yang dia sebut dengan istilah Jogo Tonggo. Secara harfiah, Jogo Tonggo merupakan gerakan saling menjaga antar tetangga dengan cara tidak keluar rumah sembarangan, mengenakan masker, serta menerapkan gaya hidup sehat dan bersih.

Jogo Tonggo sendiri, kata Ganjar, merupakan strategi dan sinergi dari gugus tugas daerah yang menjunjung tinggi nilai-nilai kearifan lokal.

"Satgas jogo tonggo ini bukan organisasi yang dibentuk dari nol, tetapi mensinergikan seluruh kegiatan organisasi dan kelompok sosial. Kita punya kok SDM yang siap untuk menjalankan strategi ini," ujarnya.

Ganjar menambahkan, bahwa kelompok SDM yang dimaksud terbagi menjadi beberapa kategori antara lain, 1.337.767 kader PKK, 506.815 dasa wisma, 230.782 Satlinmas, 228.142 kader posyandu, 55.057 kelompok tani, 39.045 KPMD, 7.527 bidan desa, 3.370 pendamping desa, 8.229 Gapoktan, 1123 Tagana, 5.413 penyuluh swadaya, 540 TKSK, serta relawan desa dan tokoh panutan yang tidak terhitung.

Dengan demikian, Jogo Tonggo diharapkan menjadi kekuatan yang akan menyentuh seluruh lapisan masyarakat. "Strategi ini akan melibatkan dari level RW. Kemudian starting from the end bukan yang baru. Jadi nilai-nilai gotong royong, tepo seliro, dan tenggang rasa inilah yang menjadi kekuatan kemandirian bangsa kita," tandasnya.

(Dewi Kurniasari)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya