Kisah Orang-Orang Melawan Pandemi Flu Spanyol, Pakai Masker hingga Makan Bubur Hangat

, Jurnalis
Jum'at 08 Mei 2020 16:33 WIB
Pandemi flu spanyol (Foto: The New York Times)
Share :

Pandemi virus corona 2020 ini mengingatkan kisah perjuangan orang-orang yang melawan pandemi flu spanyol seabad lalu. Menghadapi virus corona kita juga memakai masker dan menjaga jarak.

Pada tahun 1918 dunia dilanda pandemi flu Spanyol yang menewaskan setidaknya 50 juta orang di seluruh dunia. Banyak langkah dilakukan untuk mencegah penyebaran virus baik oleh pemerintah maupun orang-orang di antaranya dengan memakai masker, menghirup udara segar, juga makan bubur hangat.

Menurut laporan yang dibuat Sir Arthur Newsholme tahun 1919 untuk Royal Society of Medicine, wabah ini meluas bak kebakaran hebat.

Namun sayangnya panduan tertulis untuk masyarakat yang disusunnya pada Juli 1918, berisi anjuran agar orang-orang tetap di rumah jika mereka sakit dan menghindari aktivitas kerumunan, tidak digubris oleh pemerintah.

Seperti dilansir dari BBC, pada 1918 obat untuk menyembuhkan influenza belum ditemukan. Selain itu juga tak ada antibiotik untuk mengobati komplikasi seperti pneumonia. Bahkan banyak rumah sakit kewalahan.

Pemerintah kala itu belum tahu aturan menerapkan pembatasan wilayah yang lebih ketat atau lockdown untuk menekan penyebaran virus. Meski demikian, mereka menutup gedung-gedung pertunjukan teater, ruang dansa, bioskop, dan gereja dalam beberapa kasus selama berbulan-bulan guna mengurangi penularan flu spanyol.

Kala itu, pub sebagian besar tetap buka. Liga Sepak Bola dan Piala FA juga dibatalkan karena perang, namun tidak ada upaya untuk membatalkan pertandingan lain atau membatasi jumlah penonton.

Berbagai pertandingan olahraga yang melibatkan kaum pria, sepak bola perempuan masih berlanjut sepanjang pandemi.

Sejumlah jalanan di dalam kota dan sekitarnya disemprot dengan desinfektan dan beberapa orang memakai masker anti-kuman, saat mereka menjalani kehidupan sehari-hari.

Berbagai kampanye dan membagikan selebaran dilakukan untuk memperingatkan agar tidak menyebarkan penyakit melalui batuk dan bersin.

Namun pada November 1918, News of the World menyarankan para pembacanya agar mencuci hidung dengan sabun dan air setiap malam dan pagi, memaksakan diri untuk bersin pada malam dan pagi hari, lalu bernapas dalam-dalam. Jangan mengenakan selendang, langsung pulang ke rumah selepas kerja dan menyantap bubur hangat.

Tak ada satu negara pun yang luput dari pandemi flu spanyol. Meskipun skala dampaknya, dan upaya pemerintah untuk melindungi populasi mereka, sangat bervariasi.

Di Amerika Serikat, beberapa negara memberlakukan karantina pada warganya. Sementara beberapa negara bagian lain mewajibkan pemakaian masker. Sedangkan bioskop, teater, dan tempat hiburan lainnya ditutup di seluruh pelosok negara.

New York lebih siap daripada kebanyakan kota di AS, kota itu telah melakukan kampanye melawan TBC selama 20 tahun, dan hasilnya tingkat kematian di sana sangat rendah.

Namun demikian, komisioner kesehatan kota mendapat tekanan dari para pengusaha untuk tetap membuka tempat-tempat umum, terutama bioskop dan tempat hiburan lainnya.

Pada akhir pandemi, jumlah kematian di Inggris mencapai 228.000 jiwa, dan seperempat dari populasi diperkirakan telah terpapar virus.

Upaya-upaya untuk membunuh virus berlanjut dalam beberapa waktu, dan penduduknya lebih sadar akan potensi mematikan selama musim influenza.

(Dyah Ratna Meta Novia)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya