Hari Raya Nyepi 2020 yang Berbeda dari Tahun-Tahun Sebelumnya

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis
Rabu 25 Maret 2020 15:35 WIB
Ilustrasi (Foto : Pesona.Travel)
Share :

Hari ini, Rabu (25/3/2020), Umat Hindu di Indonesia merayakan Hari Raya Nyepi. Namun, bagaimanakah suasana perayaan tersebut di tengah pandemi virus corona dan penyakit COVID-19?

Menurut pentururan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pariwisata Bali, Putu Astawa, perayaan Nyepi di Bali tahun ini sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Masyarakat telah diimbau untuk tidak menggelar upacara melasti yang biasanya dilakukan satu hari sebelum perayaan Nyepi berlangsung.

Imbauan tersebut terpaksa dilakukan untuk memutus rantai penularan virus. Seperti diketahui, penyebaran COVID-19 sendiri memang tergolong cepat dan tidak kasat mata. Setiap orang bisa saja menjadi carrier dan menularkannya kepada orang lain.

Itulah sebabnya pemerintah sangat gencar mengampanyekan social distancing atau menjaga jarak sosial.

"Terkait Melasti, Pemprov Bali sudah mengimbau agar upacara ini dilakukan oleh orang-orang yang bertugas saja. Supaya tidak menarik massa. Sebab, satu saja tertular rentetannya akan luas. Dan beban para medis dan rumah sakit pun menjadi berat," ujar Putu Astawa saat dihubungi Okezone via sambungan telepon, Rabu (25/3/2020).

(Foto Upcara Melasti tahun 2018 : @michelliatjia_liebing/Instagram)

Sekadar informasi, satu hari sebelum perayaan Nyepi, umat Hindu di Bali biasanya akan melaksanakan upacara Melasti atau upacara pensucian diri. Upacara Melasti digelar untuk menghanyutkan kotoran alam menggunakan air kehidupan.

Upacara ini biasanya dilaksanakan di pinggir pantai dengan tujuan mensucikan diri dari segala perbuatan buruk pada masa lalu dan membuangnya ke laut. Dalam kepercayaan Hindu, sumber air seperti danau, dan laut memang dianggap sebagai air kehidupan (tirta amerta).

Selain Melasti, Putu mengatakan masyarakat juga diimbau untuk tidak berkerumun menyaksikan pawai ogoh-ogoh yang menjadi salah satu daya tarik wisatawan. Setiap tahun, acara ini digelar hampir di setiap banjar atau kelompok masyarakat di Bali.

(Foto : @ogohogoh_bali/@stt.ekacita_/Instagram)

Menurut penjelasan Putu, pawai ogoh-ogoh memiliki makna agar butha kala atau roh jahat tidak mengganggu manusia, dan kembali ke tempat sebagaimana mestinya.

"Acara ini diusung mulai sore hari di seputar jalan raya dengan berbagai simbul-simbul roh jahat yang divisualisasikan dalam bentuk patung. Ini sekaligus jadi tontonan menarik bagi wisatawan, dan umumnya berlangsung sampai pukul 9 atau 10 malam. Tapi tahun ini kami imbau agar warga tidak melakukannya," tandas Putu.

(Helmi Ade Saputra)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya