Cegah Corona COVID-19, Berapa Sih Suhu Tubuh Normal Pada Manusia?

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis
Rabu 18 Maret 2020 17:15 WIB
Ilustrasi. (Okezone/Dede)
Share :

PENGGUNAAN themal gun untuk mengukur suhu tubuh kini sedang digencarkan di banyak tempat untuk menghindari penularan virus corona/Coronavirus Disease 2019 (COVID-19). Thermal gun tersebut berfungsi untuk mengecek suhu tubuh manusia. Tapi sebenarnya berapa sih suhu tubuh normal pada manusia?

Mungkin sebagian dari Anda juga bingung dengan suhu tubuh normal, bisa dikatakan demam atau tidak. Bahkan mungkin tidak paham dengan cara membedakannya.

Menariknya untuk kasus virus corona di Indonesia, Juru Bicara Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto menegaskan, saat ini banyak sekali ditemukan kasus-kasus virus corona dengan gejala yang ringan. Beberapa di antaranya bahkan dilaporkan asymptomatic atau tidak bergejala sama sekali.

Seperti diketahui, salah satu gejala virus corona pada awal virus ini merebak adalah suhu tubuh yang tinggi.

Namun belakangan, banyak pasien positif corona justru memiliki suhu tubuh normal dan cenderung rendah.

Untuk mengetahui lebih lanjut tentang perbedaan suhu tubuh normal, demam, dan rendah, berikut Okezone rangkumkan ulasannya, dilansir dari WebMD, Rabu (18/3/2020).

Suhu tubuh normal


Tidak semua suhu tubuh normal sama. Artinya, suhu tubuh Anda bisa sangat berbeda dengan orang lain, meski statusnya sama-sama ditetapkan normal. Seorang dokter asal Jerman pada abad ke-19 lalu, telah menetapkan standar suhu tubuh normal adalah 37 derajat Celcius.

Namun, studi terbaru menyebutkan suhu normal kebanyakan orang adalah 36,7 derajat Celcius. Untuk orang dewasa, suhu tubuh normal umumnya berkisar antara 36,1 derajat Celcius sampai 37,2 derajat Celcius.

Sementara untuk bayi dan anak-anak memiliki kisaran yang sedikit lebih tinggi yakni, 36,6 derajat Celcius hingga 38 derajat Celcius. Namun perlu diingat bahwa suhu tubuh seseorang tidak akan sama sepanjang hari.

Hal ini disebabkan oleh sejumlah faktor yakni, seberapa aktif Anda, usia, jenis kelamin, makanan atau minuman apa saja yang sudah dikonsumsi, hingga kondisi mensturasi bagi para kaum wanita.

Demam

Pertanyaan selanjutnya, pada suhu berapakah seseorang dapat dikatakan dalam kondisi demam? Menurut para ahli medis, seseorang dengan suhu tubuh di atas 38 derajat Celcius sudah dapat dianggap demam.

Anda mungkin merasa sedikit khawatir melihat kondisi ini, namun ada kalanya demam baik bagi kesehatan. Ketika demam melanda, ini menandakan tubuh sedang melawan virus dan bakteri penyakit di dalam tubuh.

Tetapi bila suhu tubuh sudah menyentuh angka 39 derajat Celcius atau lebih tinggi, dan demam telah berlangsung selama lebih dari 3 hari, sebaiknya segera hubungi dokter. Lakukanlah tindakan ini, bila Anda juga mengalami gejala-gejala seperti pembengkakan tenggorokan yang parah, muntah, sakit kepala, nyeri dada, leher kaku, atau ruam.

Untuk anak-anak memang sedikit lebih rumit. Sebaiknya segera hubungi dokter bila anak berusia di bawah 3 bulan memiliki suhu rectal lebih dari 38,8 derajat Celcius. Sementara bagi mereka yang berusia antara 3 bulan sampai 3 tahun, dapat dikatakan demam ketika memiliki suhu rectal di atas 39,4 derajat Celcius.

Hipotermia

Selain suhu tubuh tinggi atau demam, masyarakat juga harus waspada bila suhu tubuh mereka terbilang rendah. Hal ini bisa jadi menunjukkan tanda-tanda atau gejala hipotermia.

Hipotermia seringkali terjadi pada mereka mereka yang berusia lanjut dan bayi. Bayi berpotensi terkena hipotermia karena ketidakmampuan mereka mengatur suhu tubuh. Mereka juga bisa kehilangan panas dengan cepat.

Oleh karena itu, sangat penting untuk menjaga suhu tubuh mereka agar tetap hangat. Suhu tubuh di bawah 36,1 derajat Celcius diklaim terlalu rendah untuk bayi.

Orang dewasa berusia lanjut juga memiliki potensi terkena hipotermia. Itulah sebabnya mereka harus berusaha menjaga suhu tubuh di level normal.

Pemicu hipotermia pada usia lanjut disebabkan oleh sejumlah faktor antara lain; konsumsi alkohol, penggunaan narkoba, hipotiroidisme, anoreksia, stroke, sepsi, penyakit parkinson, kerusakan saraf, malnutrisi, penggunaan obat penenang, dan anestesia.

(Dewi Kurniasari)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya