VIRUS korona atau penyakit COVID-19 ditetapkan sebagai pandemi oleh WOrld Health Organization (WHO). Artinya, penyakit ini bisa menyerang siapa saja dan negara mana saja.
Juru Bicara Penanganan Korona COVID-19, Achmad Yurianto, mengatakan dengan diberikannya status pandemi ini, maka tidak ada negara yang bisa santai, semua harus antisipasi dan beri respons. Tapi, di balik keputusan pandemi tersebut ada konsekuesnsi lain.
"Tiap negara jadi bersiap-siap mereka butuh sarna dan prasarana kesehatan untuk kepentingannya, jadi mereka akan siapkan berbagai perangkat," jelas dia di Kantor Staff Presiden (KSP), Jakarta.
"Jadi mereka akan amankan stok masker, APD, google, obat. Masing-masing negara akan mengamankan yang dianggap cukup, termasuk dalam konteks ini adalah jumlah kit lab yang negara butuhkan," tambahnya.
Menurut dia, Indonesia sendiri tidak perlu khawatir karena telah bersiap-siap. "Kemenkes sudah siapkan 10 ribu kit, dan sebentar lagi kita tambah," tutur dia.
Sekadar informasi, Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menyebutkan bahwa wabah virus korona sekarang adalah pandemi. WHO pun telah mengawasi wabah ini sepanjang hari penuh.
Karena tingginya tingkat penyebaran dan tingkat keseriusan, dan khawatir karena minimnya tindakan yang diambil. Pandemi sendiri terjadi ketika suatu penyakit menular dengan mudah menjangkiti satu orang ke orang lainnya di banyak negara pada waktu yang bersamaan.
Data WHO dan Johns Hopkins University Center for Systems Science and Engineering menunjukkan, virus korona sudah menginfeksi 125.865 orang dengan jumlah korban meninggal 4.616.
Dari total korban terinfeksi, 67.008 di antaranya dinyatakan sembuh atau 53,2 persen. Sementara persentase korban meninggal 3,6 persen.
(Martin Bagya Kertiyasa)