TAK sekadar memberantas nyamuk dengan pengasapan maupun membersihkan lingkungan, bakteri Wolbachia diklaim dapat memutus rantai penularan demam berdarah dengue (DBD). Di sebuah kota di Australia, bakteri tersebut dipakai untuk memberantas nyamuk aedes agypti.
Pengalaman World Mosquito Program di Townsville, kota berpenduduk 187.000 orang di Australia, dianggap sukses memberantas rantai penularan DBD. Timnya menggunakan bakteri Wolbachia untuk menyisir nyamuk penyebab DBD.
Dengan menyebarnya nyamuk yang telah dijangkiti dengan bakteri Wolbachia, nyamuk-nyamuk aedes aegypti di kawasan itu tak lagi membawa virus dengue. Alhasil, Townsville telah bebas dari DBD sejak 2014.
"Sebelumnya kami tidak punya apapun untuk memperlambat penyakit ini, semakin lama justru semakin buruk," kata Scott O'Neill, direktur World Mosquito Program, sebagaimana dikutip harian Theguardian.
"Saya pikir kami punya sesuatu yang akan berdampak signifikan dan saya pikir studi ini adalah indikasi pertama bahwa hasilnya tampak sangat menjanjikan," imbuh O'Neill.
Nyamuk-nyamuk pembawa bakteri Wolbachia yang akan menekan penyebaran virus demam berdarah dikembangbiakkan di laboratorium. Selama empat musim hujan, para peneliti dari Universitas Monash melepaskan nyamuk-nyamuk ber-Wolbachia di area sekitar kota seluas 66 kilometer persegi.
Masyarakat kota beriklim tropis itu mendukung sepenuhnya upaya tersebut. Bahkan, para pelajar turut menyebar nyamuk-nyamuk ber-Wolbachia. World Mosquito Program menyebut Townsville adalah kesuksesan pertama program tersebut.
"Dengan biaya sekitar Rp217.000 per orang, uji coba Townsville menunjukkan bahwa pendekatan ini bisa dilaksanakan secara cepat, efisien, dan terjangkau untuk membantu masyarakat terlindungi dari penyakit yang dibawa nyamuk," kata O'Neill, seperti diwarta BBC News Indonesia.
(Dewi Kurniasari)