MEDIA asing Straits Times belum lama ini memberi laporan bahwa penjual masker di Indonesia mematok harga tinggi hingga tak masuk akal. Kondisi seperti ini tidak wajar dan harusnya tak boleh dilakukan.
Dalam laporan media tersebut yang dimuat di judul berita 'Coronavirus: Price of a box of N95 masks cost more than a gram of gold in Indonesia', dikatakan bahwa harga masker N95 di Indonesia mencapai Rp1,5 juta. Harga tersebut mereka temukan di Pasar Pramuka yang merupakan salah satu pasar obat terbesar di Jakarta.
Media itu pun coba membandingkan harga masker N95 dengan harga emas yang ada di Indonesia. Jadi, mereka menyatakan bahwa emas 1 gram itu seharga Rp750 ribu hingga Rp800 ribu. Harga tersebut jauh lebih murah daripada emas 1 gram.
Menanggapi isu ini, Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menjelaskan bahwa kenaikan harga masker yang tinggi karena memang banyak yang mencari dan ini seharusnya tidak dilakukan.
"Masker itu sebetulnya kita (orang yang sehat) enggak perlu pakai, yang perlu pakai itu yang sakit saja," kata Terawan saat diwawancarai awak media di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Sabtu (15/2/2020).
Menurut Menkes Terawan, mereka yang menggunakan masker itu digunakan untuk menghambat laju virus. Terawan pun menerangkan bahwa WHO juga sependapat bahwa masyarakat yang sehat tidak perlu menggunakan masker.
"Mereka menggunakan masker itu karena mereka sakit, sehingga tidak menyebarkan penyakitnya ke orang lain. Yang sehat, ya, nggak perlu," sambungnya.
Kepanikan yang terjadi di tengah masyarakat pun seharusnya tidak terjadi menurut Terawan. Sebab, WHO pun menyatakan bahwa tidak ada yang sakit karena COVID-19 di Indonesia.
Terkait dengan kebijakan pemerintah untuk menekan harga masker, Menkes Terawan menjelaskan, pasar memang akan seperti itu. "Saat masker itu dibutuhkan, harganya akan naik, sedangkan kalau tidak, ya, akan turun lagi," pungkasnya.
(Martin Bagya Kertiyasa)