World Clean Up Day, Kualitas Air di Jabodetabek Kian Memprihatinkan

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis
Senin 23 September 2019 16:45 WIB
Sungai Cisadane di Bogor (Foto: Ist.)
Share :

Kualitas air di daerah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang (Jabodetabek) terus mengalami penurunan. Kondisi ini semakin diperparah dengan munculnya isu pemanasan global dan peningkatan populasi penduduk yang kian tak terbendung.

Di Indonesia sendiri, sungai menjadi sumber air bersih terpenting untuk menyokong kehidupan masyarakat dan ekonomi lokal, baik untuk kebutuhan pertanian hingga industri. Namun sayang, menurut Fakri Wahyudi, Kepala Bidang Tata Air Dinas PUPR Kota Tangerang, kualitas air di daerahnya terus mengalami penurunan.

 

Hal ini tidak terlepas dari semakin meningkatnya jumlah limbah yang mencemari sumber air di Sungai Cisadane. Bahkan, kualitas air di daerah Tangerang dan sekitarnya masuk dalam kategori kelas 3 atau dalam arti lain, tercemar.

"Mirisnya, 50-60 % limbah yang mencemari Sungai Cisadane itu adalah limbah domestik seperti bungkus-bungkus atau kemasan makanan, dan termasuk limbah dari sabun cuci atau deterjen. Belum lagi limbah industri dan pabrik, alhasil, kualitas air kita pun menurun," tegas Fakri Wahyudi saat ditemui Okezone dalam acara World Clean Up Day di Sungai Cisadane, Bogor, Jawa Barat, Senin (23/9/2019).

 

Lebih lanjut, Fakhri menjelaskan, tahun ini Dinas PUPR Tangerang telah menganggarkan dana sekira Rp150 miliar untuk biaya pembebasan lahan dan pembuatan turap beton di sepanjang Sungai Cisadane.

Program ini sebetulnya telah dilaksanakan sejak tahun 2008 silam, namun karena keterbatasan dana progressnya masih belum dapat dapat dipastikan.

 

"Pembebasan lahan ini untuk memperbaiki badan sungai kita. Tujuannya untuk mencegah longsor, banjir, dan sebagainya. Karena pada saat musim hujan, air Sungai Cisadane itu sangat tinggi. Air yang tinggi ini sudah tidak bisa lagi menampung badan sungai aslinya. Lebarnya bisa sampai 100 meter. Begitu pula saat kemarau, aliran airnya pun tidak deras," tegas Fakri Wahyudi.

Oleh karenanya, Fahri menegaskan bahwa Sungai Cisadane ini tidak bisa ditangani oleh pemerintah sendiri, namun harus ditangani bersama-sama.

 

"Kita harus mengubah mindset. Selama ini kita selalu berpikir sungai itu ada di 'belakang' halaman rumah kita, sekarang harus dibalik menjadi di depan rumah, agar kita lebih peduli untuk melestarikannya," tambahnya.

Sementara itu, dalam rangka World Clean Up Day 2019, lebih dari 100 sukrelawan dari PT. Multi Bintang Indonesia Tbk dan masyarakat sekitar Sungai Cisadane turun langsung untuk membersihkan berton-ton sampah domestik di hulu Cisadane. Sampah tersebut kemudian akan disortir lalu dipindahkan ke fasilitas daur ulang.

"Sungai Cisadane telah menjadi sumber kehidupan bagi banyak orang dan kami percaya dengan gerakan kecil yang dilakukan bersama komunitas sekitar akan menghasilkan efek yang besar dalam melindungi sumber air," kata Ika Noviera, Corporate Affairs Director PT MBI.

Hal senada juga turut disampaikan oleh Sally Kailola, selaku Learning and Development Manager The Nature Conservancy. Menurutnya, untuk membuat bumi berkelanjutan dibutuhkan kolaborasi dari setiap individu.

"Sungai adalah garda terdepan sebelum limbah mengalir ke laut. Limbah yang ada di sungai berasal dari lingkungan tempat kita tinggal, area umum, dan area industri yang dengan sengaja membuang limbahnya. Ini artinya sampah akan menumpuk pada tepi sungai dan mengalir ke laut apabila tidak ada dari kita yang mengambil tindakan," tukasnya.

(Utami Evi Riyani)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya