PARA milenial Jakarta kembali mengantre panjang demi membeli sepatu. Kali ini mereka menyerbu Plaza Indonesia demi memburu koleksi Off-White X Converse Chuck 70. Sneakers kekinian itu terkesan kalem, namun tetap gaul ketika dipakai.
Perancang Off-White X Converse Chuck 70, Virgil Abloh, sengaja berkolaborasi dengan sehingga koleksi sneakers tersebut tergolong limited edition. Para pencinta sneakers Converse pun rela antre untuk mendapatkan koleksi keren tersebut.
"Setiap pelanggan akan diizinkan untuk membeli satu pasang, berdasarkan siapa datang pertama akan dilayani pertama karena jumlah terbatas. Syarat dan ketentuan berlaku. #offwhitejakarta #offwhite," bunyi pengumuman di Instagram, diunggah sehari lalu.
Anda tak bisa sembarangan membeli karena ada syarat dan ketentuan yang berlaku. Anda tidak boleh menyerobot antrean hingga saat membeli sneakers tersebut tidak boleh dijajal.
Belum lagi, sneakers kece tersebut tidak boleh ditukar ketika sudah terlanjur dibeli. Sneakers Off-White X Converse Chuck 10 itu hanya resmi dijual di store resmi Off-White, tepatnya di Plaza Indonesia.
Sementara itu, karena peminatnya sangat banyak, admin Off White Jakarta mengingatkan Anda agar tak menyerobot antrean. Kalau nekat Anda akan ditindak tegas oleh pihak Off White Jakarta.
"Menyerobot antrean sangat dilarang. Jika ada perilaku membahayakan atau mengganggu tidak akan ditoleransi. Off White Jakarta berhak untuk melaksanakan keputusan akhir jika terjadi perselisihan," imbuh keterangan tersebut.
Jika dilihat penampakan sneakers-nya memang koleksinya berbeda dari biasanya. Warna putih polos mendominasi sneakers tersebut dengan tampilan gagah.
Sementara motif garis diagonal hitam dan putih di bagian sol-nya menjadi kebanggaan sneakers unik tersebut. Desain itu jadi gaya khas yang ditampilkan Abloh di setiap desainnya. Selain itu ada lambang bintang yang khas dari Converse All Star Chuck Taylor.
Di sisi kanan, Abloh mendesain kanvas putih yang menawan itu dengan tulisan Off White Converse "Chuck Taylor All Star" Malden, Massachusetts USA c. 1917. Jadi terkesan sangat simpel dan cocok dipakai dalam berbagai aktivitas.
(Martin Bagya Kertiyasa)