ANDA mungkin pernah melihat atau mendengar seseorang yang tenggelam dan pingsan setelahnya, ditolong dengan ciuman?
Tindakan ini pro-kontra. Banyak yang beranggapan penekanan pada dada jauh lebih efektif dibandingkan pertolongan pertama dengan memberi napas buatan. Namun, tak sedikit yang menyatakan bahwa dengan mouth-to-mouth akan lebih cepat melancarkan saluran pernapasan.
Tapi, jika melirik pada referensi, ternyata tindakan CPR mouth-to-mouth punya maksud tersendiri. Bukan sekadar ciuman, namun sang penolong mencoba untuk mengaktifkan kembali sistem tubuh yang mati akibat reaksi mengejutkan sebelumnya.
Baca juga: 4 Ilmuwan Dunia yang Masuk Islam karena Riset Ilmiah Mereka
Perlu Anda ketahui, jika seseorang tidak dapat bernapas, maka sel-sel tubuhnya menjadi kekurangan zat asam. Apabila dalam 5 menit oranh tersebut tidak mendapatkan zat asam, maka sel otak akan mengami kerusakan total.
Kondisi ini sama dengan paru-paru atau jantung yang tidak bergerak untuk sementara waktu. Dalam kondisi ini, nyawa pasien bisa diselamatkan dengan memberikan pertolongan melalui pemberian napas buatan.
Anda mesti ketahui bahwa saat terjadi kecelakaan yang menyebabkan ketidaksadaran, hal pertama yang harus diperhatikan adalah apakah dada pasien masih kembang kempis karena bernapas atau tidak. Kalau tidak, segera berikan napas buatan.
Lebih lanjut lagi mengenai praktik pemberian napas buatan ini, Harvard Health memberikan paparan cukup jelas mengenai tata laksana CPR mouth-to-mouth ini. Bahkan, dijelaskan di sana, tindakan ini harus disesuaikan dengan usia pasien.
Pemberian napas buatan untuk pasien di bawah usia 8 tahun
1. Letakkan anak pada permukaan yang keras dan rata.
2. Lihatlah ke dalam mulut dan tenggorokan untuk memastikan jalan napasnya bersih. Jika ada objek, cobalah untuk mengeluarkannya dengan jari-jari Anda. Jika tidak berhasil dan objek menghalangi jalan napas, terapkan manuver Heimlich. Jika muntah terjadi, balikkan anak ke sisinya dan sapukan mulut dengan dua jari.
3. Miringkan kepala ke belakang sedikit untuk membuka jalan napas.
Baca juga: Fakta Suntik Mati, Salah Satunya Berlawanan dengan Sumpah Dokter
4. Letakkan mulut Anda dengan erat di atas hidung dan mulut. Tiup dua nafas pendek, dangkal (napas lebih kecil dari yang Anda berikan pada orang dewasa). Perhatikan dada naik.
5. Hapus mulutmu. Usap pelan dada saat anak menghembuskan nafas.
6. Dengarkan suara napas. Rasakan napas anak di pipi Anda. Jika pernapasan tidak terjadi, ulangi prosedurnya.
Sementara itu, untuk pasien di atas usia 8 tahun pun dewasa, tata laksananya sebagai berikut:
1. Pastikan pasien berbaring di permukaan yang keras dan datar.
2. Lihatlah ke dalam mulut dan tenggorokan untuk memastikan jalan napasnya bersih.
3. Jika ada benda, cobalah untuk mengeluarkannya dengan jari Anda (pakai sarung tangan bedah sekali pakai jika tersedia). Terapkan manuver Heimlich jika tidak berhasil dan objek menghalangi jalan napas.
4. Jika muntah terjadi, putar orang itu di sampingnya dan sapukan mulut dengan dua jari. Jangan letakkan jari Anda di mulut jika orang itu kaku atau mengalami kejang.
5. Miringkan kepala ke belakang sedikit untuk membuka jalan napas. Taruh tekanan ke atas pada rahang untuk menariknya ke depan.
6. Cubit lubang hidung dengan ibu jari dan jari telunjuk. Letakkan mulut Anda dengan erat di mulut orang itu. Gunakan corong jika tersedia. Tiup dua nafas cepat dan perhatikan dada orang itu naik.
7. Lepaskan lubang hidung. Perhatikan dada pasien, kondisi yang benar adalah dada jatuh saat ia menghembuskan nafas. Dengarkan suara napas.
8. Rasakan napas orang itu di pipimu. Jika orang tersebut tidak mulai bernafas sendiri, ulangi prosedurnya.