TANGGAL 26 Desember nanti akan diperingati 13 tahun Tragedi Tsunami yang melanda Aceh. Mengunjungi Museum Tsunami di Banda Aceh akan membuka kembali kenangan pengunjung tentang tragedi 13 tahun lalu.
Karena, hampir semua spot yang berada di Museum Tsunami memiliki filosofis sendiri. Okezone pernah mendatangi Museum Tsunami beberapa tahun lalu.
Saat kunjungan di sana, Okezone sempat menyusuri sambil berbincang dengan Raihal Fajriah selaku pemandu wisata di Museum Tsunami. Dia menjelaskan makna beberapa spot di Museum Tsunami seperti berikut ini:
Lorong kebingungan
Pertama, Anda harus melewati sebuah lorong berputar berdinding gelap. Lorong gelap yang berkelok dan naik menuju sebuah cahaya ini disebut Lorong Kebingungan. Ketika menyusuri lorong kebingungan ini, pengunjung dapat merasakan air mengalir pada dinding di sisi kanan dan kirinya.
Menurut Raihal Fajriah, Lorong Kebingungan memiliki makna tentang kebingungan luar biasa yang dialami masyarakat Aceh setelah terjadi tsunami.
"Setelah terjadi tsunami, masyarakat Aceh bingung ke mana mereka harus mencari keluarga dan harta benda yang hilang," ujarnya.
Terlebih lagi, menurut Raihal, sebelumnya Aceh dilanda konflik berkepanjangan. Ketika itu, juga banyak orang-orang meninggal, ditambah musibah tsunami, sehingga sesuai dengan filosofi Lorong Kebingungan.
Ketinggian dari Lorong Tsunami sendiri mencapai 22 meter. Menurut Raihal Fajriah ketinggian itu sama dengan tinggi gelombang tsunami yang menerjang Banda Aceh 10 tahun silam. Ketinggian 22 meter itu yang pertama kali datang dari laut, tetapi semakin jauh, gelombangnya semakin rendah karena terkena bangunan-bangunan dan terpecah.
Memorial Hall
Setelah melewati lorong kebingungan, pengunjung akan menemui Ruang Memorial Hall. Di Ruang Memorial Hall terdapat 26 monitor. Pada setiap monitor, Anda bisa menyaksikan kejadian-kejadian saat terjadinya Tragedi Tsunami 26 Desember 2004
Di Ruang Memorial Hall, suasana hening memang begitu terasa. Penerangan yang sengaja dibuat remang-remang agar pengunjung bisa mengenang tragedi tsunami 10 tahun lalu. Jumlah total monitor sebanyak 26 buah, disesuaikan dengan tanggal tragedi tsunami, yakni 26 Desember.
Sumur Doa
Setelah melewati Lorong Tsunami dan Memorial Hall yang ada di Museum Tsunami, wisatawan akan menemui sebuah ruangan berbentuk oval. Ruangannya memang tidak terlalu luas, tetapi cukup untuk memanjatkan doa kepada para korban tsunami.
Menurut Raihal Fajriah, di dalam Sumur Doa terdapat nama-nama korban pada tragedi tsunami 10 tahun silam. Nama-nama para korban terukir di dinding ruangan menjulang dengan penerangan remang-remang.
“Di dalam Sumur Doa itu terdapat nama-nama korban tsunami, yang sejauh ini tercatat baru 2.200 nama. Masih banyak orang yang ingin mencatumkan nama keluarganya yang menjadi korban di sini,” katanya.
Sementara itu, Raihal Fajriah menjelaskan, Sumur Doa memiliki tinggi cerobong kurang lebih 32 meter. Hal ini sama dengan tinggi gelombang tsunami di pesisir pantai Barat Aceh.
“Di atas cerobong itu terdapat lafadz Allah dalam bahasa Arab. Artinya, ada hubungan antara manusia dengan Allah, dan hubungan manusia dengan manusia,” tuturnya.
Lafadz Allah memang tampak menyala di atap cerobong beratap kaca itu, hingga membuat wisatawan yang melihatnya takjub dan terbawa suasana haru. Selain itu, suasana di Sumur Doa semakin khusyuk dengan lantunan ayat-ayat Alquran yang menggema di seisi ruangan.
Jembatan perdamaian
Setelah itu, pengunjung akan menuju sebuah jembatan yang disebut Jembatan Perdamaian. "Karena setelah terjadi tsunami, kemudian dilanda kebingungan, maka timbullah perdamaian," tutur Raihal.
Jembatan Perdamaian sendiri membentang sepanjang 15 meter di atas sebuah kolam ikan. Di sekeliling kolam sendiri berdiri 52 batu besar sebagai tempat duduk-duduk para pengunjung.
Batu-batu besar tersebut ternyata bukan hanya menambah artistik Musuem Tsunami, melainkan memiliki makna. Jumlah batu di pinggir kolam tersebut merupakan jumlah negara yang memberi bantuan pada Aceh dalam merekonstruksi pembangunan.
Sementara itu, jika pengunjung melihat ke langit-langit ketika melintas Jembatan Perdamaian, maka bendera-bendera negara tergantung indah. Hal ini karena di setiap bendera negara-negara yang tergantung tersebut tertulis kata damai dalam berbagai bahasa.