Dilarang Bawa Bayi ke Kantor, Ini yang Dilakukan Politikus Wanita Jepang untuk Protes

Vessy Frizona, Jurnalis
Jum'at 24 November 2017 19:36 WIB
Bentuk protes wanita pekerja dilarang bawa bayi ke kantor (Foto:Telegraph)
Share :

MESKI Jepang merupakan negara maju, namun sayang kesetaraan jender di negara tersebut sangat buruk. Wanita-wanita di Jepang mulai mengeluhkan nasib karier mereka.

Baru-baru ini seorang politikus wanita di Jepang memancing perdebatan karena ia dilarang membawa bayi ke dalam ruang sidang dewan. Sebagai anggota perlemen, Yuka Ogata diberitahu dia tidak dapat mengikuti sidang mejelis pada Rabu, 22 November lalu karena membawa bayi laki-lakinya yang berusia 7 bulan.

Pejabat majelis kota Kumamoto mengatakan bahwa aturan di di ruang parlemen memang tidak memperbolehkan anak-anak masuk. Akibat larangan tersebut, Ogata hanya bisa mengikuti sidang majelis selama 40 menit. Dia meninggalkan bayinya di luar yang dititipkan kepada temannya.

Menurut laporan BBC, ini merupakan pertama kalinya Ogata menghadiri sidang paripurna sejak dia melahirkan anaknya. Ogata pun mengeluhkan betapa sulitnya melanjutkan karier dan mengasuh anak bagi wanita Jepang jika peraturannya tidak berpihak pada wanita.

BACA JUGA:

Nabila Syakieb Pamer Foto Kehamilan dengan Busana Serba Putih, Netizen: Cantiknya Seperti Bidadari

"Saya ingin kantor mana pun, termasuk ruang sidang parlemen menjadi tempat di mana wanita bisa membesarkan anak dan melakukan pekerjaan dengan baik," kata Ogata kepada surat kabar Mainichi.

Anggota Dewan tersebut mengatakan akan membahas tetang aturan tersebut. Dia berharap pemerintah mendukung anggota parlemen yang memiliki anak kecil.

BACA JUGA:

Tingkah Menggemaskan Jan Ethes Berlari ke Tempat Manortor Resepsi Kahiyang-Bobby

Sementara itu, situasi kontras terjadi di parlemen Australia. Di mana Senator Larissa Waters dengan leluasa menyusui bayinya di ruang sidang. Dia kembali bekerja pada Mei lalu, setelah melahirkan anak perempuan keduanya dan membawa bayinya Alia Joy saat memberikan suara di parlemen. Ia telah menorehkan sejarah politik di negara itu dengan menyusui putrinya di ruang tersebut.

 

Peristiwa di Jepang yang dialami Ogata, membuat wanita-wanita di negara tersebut berasumsi bahwa sepertinya memang wanita di sana diminta menyerah dalam melanjutkan karier setelah memiliki anak..

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya