ANGKA kasus kanker serviks di Indonesia masih terbilang cukup tinggi. Terlebih setiap tahunnya jumlah pasien yang terkena penyakit ini terus bertambah. Maka dari itu, masyarakat khususnya perempuan diminta lebih waspada terhadap risiko kanker serviks.
Untuk perempuan yang belum aktif secara seksual diharapkan mendapatkan vaksinasi HPV. Sedangkan untuk perempuan yang sudah aktif secara seksual diharapkan rutin melakukan pemeriksaan. Vaksinasi dan pemeriksaan merupakan langkah efektif untuk mencegah kanker serviks.
Kewaspadaan terhadap risiko kanker serviks juga sudah digiatkan oleh masyarakat Tabanan, Bali. Angka kasus kanker serviks di daerah tersebut mulai menurun. "Tujuh tahun yang lalu angka kanker serviks di Tabanan mencapai 18 persen, sekarang turun menjadi 4 persen. Target saya selanjutnya adalah menjadi 0 persen," tutur Bupati Tabanan, Ni Putu Eka Wuryastuti saat ditemui dalam acara seminar yang bertema eco-creative perempuan pada Selasa (10/10/2017) di kawasan Pancoran, Jakarta Selatan.
Dalam acara yang dihadiri oleh perwakilan Dharma Wanita di seluruh Indonesia itu, Bupati Eka, demikian ia akrab disapa, didapuk menjadi salah satu pembicara seminar yang bertema eco-creative perempuan.
Menurut Bupati Eka, memang tidak mudah menumbuhkan kesadaran pada perempuan di daerahnya untuk lebih peduli terhadap kanker serviks. Namun itu tak lantas membuatnya menyerah. Dia selalu mengajak perempuan untuk melakukan pengecekan terhadap kesehatan serviksnya.
"Jika saya turun ke masyarakat dengan mobil sehat, mereka selalu saya ajak untuk memeriksakan diri. Mobil sehat merupakan langkah preventif yang saya terapkan dan terus digaungkan kepada masyarakat. Di dalam mobil sehat terdapat mesin cryo yang dipergunakan untuk mendeteksi dini kanker serviks," ujar Bupati Eka.
Selain itu, kini dari 22 puskesmas yang tersedia di Tabanan, semuanya sudah dilengkapi dengan mesin cryo serta bidan dan tenaga medis yang terlatih untuk menangani kanker serviks. Dengan sosialiasi serta kelengkapan fasilitas dan prasarana, kini sudah banyak perempuan, terutama ibu-ibu yang memiliki kesadaran untuk rutin memeriksakan kesehatan serviks.
Bupati Eka percaya apabila perempuan sehat, maka bisa membuat suatu daerah sangat maju. "Perempuan apalagi ibu-ibu sangat cepat untuk diajak membuat sesuatu yang baru. Dari UMKM yang ada isinya kebanyakan ibu-ibu. Mereka semua terus mendapatkan pembinaan khusus dan dilatih kemampuannya. Mulai dari handicraft, kuliner, hingga yang lainnya.
Dari semua kemampuan yang mereka miliki, bisa membantu memajukan perekonomian. Sebagai contoh jika UMKM menjadi besar, membutuhkan pekerja dan akhirnya membuka lapangan kerja baru. Jadinya angka pengangguran menurun juga," jelas Bupati Eka.
Pembangunan Desa Wisata
Di samping fokus mengenai kanker serviks dan pelatihan kemampuan perempuan, Bupati Eka juga memerhatikan potensi alam di Tabanan. Baginya wisata alam memiliki banyak dampak yang bisa dirasakan oleh masyarakat. "Jika alamnya terjaga, bisa menghasilkan sesuatu, dan akhirnya mendorong perekonomian tanpa harus merusak alam itu sendiri," kata Bupati Eka.
Desa wisata memang menjadi daya tarik sendiri untuk wisatawan. Di sana, wisatawan bisa merasakan bagaimana kehidupan penduduk lokal dan melihat langsung kebudayaan yang diterapkan sehari-hari. Bahkan tak jarang ada wisatawan yang secara khusus datang untuk mempelajari hal-hal tertentu di desa tersebut.
Hingga saat ini, Tabanan telah memiliki 44 desa wisata untuk para wisatawan. Ke depannya Bupati Eka ingin ada 61 desa wisata. Maka dari itu, 17 desa lainnya sedang dalam penataan untuk dipersiapkan menjadi desa wisata. Selain itu, harus juga ada BUMDes untuk mendorong inovasi di desa tersebut. Melalui BUMDes, masyarakat nantinya bisa menghasilkan sesuatu untuk dijual. Mulai dari kerajinan tangan, cenderamata, hingga pentas budaya.
Semangat membangun daerah inilah yang ingin ditularkan oleh Bupati Eka kepada masyarakat di daerah lain. Dengan menjadi pembicara seminar, dirinya ingin memotivasi masyarakat dari daerah lain agar bisa maju secara bersama-sama dan mendapatkan tambahan ilmu dari kegiatan yang sudah dilakukannya sebagai bupati. "Dalam memajukan suatu daerah, diperlukan kesadaran masyarakat, partisipatif, dan gotong royong. Pemerintah daerah tidak bisa bekerja sendiri," pungkas Bupati Eka.