BELASAN fotographer professional Indonesia mencoba mengangkat kembali sejarah leluhur bangsa batak lewat pameran foto bertajuk “Batak Imagery 1900”. Pameran tersebut digelar di Café Potret, Jalan Wahid Hasyim, Kota Medan, 26 -31 Agustus 2017.
Sebanyak 32 frame foto terbaik dengan latar kehidupan masyarakat Desa Bakkara pada 1900-an, dipertontonkan secara terbuka kepada masyarakat umum secara gratis.
BACA JUGA:
Ketua Panitia "Batak Imagery 1900", Palti Siregar mengatakan, Desa Bakkara, Kecamatan Bakti Raja, Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatera Utara, sengaja dipilih sebagai latar foto karena desa yang berada di tepi Danau Toba itu, menyimpan banyak tempat, cerita dan sejarah tentang kebudayaan masyarakat batak.
Bakarra juga merupakan jejak napak tilas sejarah Indonesia, karena desa tersebut merupakan tanah kelahiran pahlawan nasional, Sisingamangaraja XII.
“Pameran ini kita lakukan tidak hanya sekedar untuk mempertontonkan foto-foto yang kita hasilkan, tapi lebih kepada menunjukkan budaya batak di zaman dahulu yang berhasil kita gali dan kemudian kita representasikan secara visual modern,”ujar Palti, belum lama ini.
Dalam menghadirkan kembali foto-foto yang menggambarkan kondisi masyarakat batak di 1900-an, Palti mengaku mereka harus melakukan riset panjang dan juga mengumpulkan referensi dari sejumlah literatur yang menceritakan kebudayaan masyarakat batak di Bakkara.
Mereka kemudian melakukan rekonstruksi lokasi dan situasi, sesuai dengan referensi itu untuk menghasilkan gambar yang paling otentik dengan kondisi pada masa itu.
“Jadi kita punya buku kumpulan foto karya Belanda yang kemudian kita combine dengan data-data hasil riset yang kita temukan, lalu kita rekonstruksi untuk menghasilkan foto baru yang berwarna, namun tetap dengan latar kejadian pada tahun 1900-an itu. Jadi kita buat sedetail mungkin,”tukasnya.
Lebih lanjut Palti kembali mengatakan, bahwa “Batak Imagery 1900” ini merupakan langkah awal persiapan bagi para fotographer professional Indonesia, khususnya fotographer lokal Sumatera Utara, untuk mengikuti kompetisi fotografi Gambara Toba yang akan digelar tahun depan.
“Ini Kick Off untuk kompetisi Gambara ketiga yakni Gambar Toba 2018 yang sedang kita siapkan. Ini awal kita mengeksplorasi kawasan toba, setelah ini kita akan jalan ke 6 kabupaten lain di sekitar Danau Toba untuk mengeksplore potensi keindahan kawasan Danau Toba untuk kita representasikan lewat foto. Nantinya foto-foto itu akan kita pamerkan secara internasional, agar masyarakat dunia bisa lebih mengenal kawasan toba,”tukasnya.
Sementara itu, Johnny Siahaan, fotografer profesional yang ikut serta dalam pameran tersebut mengatakan, upaya mengungkap napak tilas Suku Batak lewat fotografi ini mereka lakukan dengan berbagai tantangan yang sangat besar. Dimana mereka menghadapi kendala untuk merekonstruksi beberapa tempat bersejarah yang menjadi bagian penting dalam sejarah perjalanan suku Batak. Hal ini masih bertambah dengan minimnya literatur yang dimiliki mengenai seluruh seluk beluk kehidupan suku Batak.
BACA JUGA:
"Kami menghadapi banyak kendala, namun kita sudah niatkan bahwa ini harus bisa ditelusuri. Dan dengan literatur yang kita miliki, kita berupaya menyajikan kondisi suku Batak pada zaman dulu. Kita berharap upaya ini dilirik pemerintah melalui dinas terkait agar lebih melengkapi daerah masing-masing dengan literatur sejarah. Menurut saya itu penting karena itu jadi bagian dari sejarah yang menjadi kekuatan dalam memajukan industri pariwisata," pungkasnya.
Jhony mengaku, foto-foto yang mereka hasilkan merupakan bagian dari dokumentasi yang diharapkan nantinya dapat menjadi referensi bagi masyarakat untuk mengetahui lebih banyak aspek kehidupan masyarakat batak. Foto-foto itu juga diharapkan bisa menjadi komoditi wisata baru seiring dengan tengah digiatkannya Kawasan Danau Toba sebaga tujuan wisata andalan Indonesia.
“Kalau selama ini masyarakat hanya mendengar cerita, kini mereka akan disugguhkan dengan gambar yang akan memudahkan mereka memahami bangsa batak. Ini persembahan kita untuk membantu pengembangan kebudayaan di kawasan danau toba,”tukasnya.