MALADEWA atau lebih dikenal Maldives selama ini masuk ke dalam kategori pulau terindah di dunia. Kunjungan wisatawan asing ke negara kecil itu pun mencapai jutaan per tahun.
Namun baru-baru ini muncul kabar tak sedap yang disebut sebagai “Sisi Gelap Maldives” oleh media dari Selandia Baru, Stuff. Sisi gelap yang dimaksud adalah adanya rencana pemberlakuan hukuman mati di negara yang disebut sebagai surga itu.
Baca Juga: Surga "Hijau" di Kota Pahlawan, dari Taman Sakura hingga Hutan Bambu
Para aktivis Hak Asasi Manusia pun mendesak perusahaan travel yang menawarkan perjalanan ke Maldives untuk mengecam eksekusi yang akan dilakukan kepada tiga pria. Hal ini juga membuat salah satu pemilik perusahaan penerbangan di Inggris, Sir Richard Branson bereaksi keras.
Ia menggambarkan bahwa keputusan yang dilaporkan oleh Presiden Maldives, Abdulla Yameen untuk menghidupkan kembali eksekusi mati sebagai “langkah politik yang mengerikan yang akan mengirim negara itu kembali ke Abad Kegelapan Hak Asasi Manusia”.
Baca Juga: Luar Biasa! Besakih Direkomendasikan Menjadi Pusat Siwaratri Dunia
Sir Richard Branson dalam blog miliknya juga mengancam akan menghapus bisnis liburannya dari Maldives dan mendesak agar operator tur lainnya, baik dari pemerintah dan swasta untuk mengikuti jejaknya jika eksekusi tersebut terus berlanjut.
Ia menyayangkan Maladewa yang selama ini dikenal sebagai negara dengan pulau yang indah serta menjadi destinasi liburan utama justru memiliki hukum yang menyedihkan.
“Sangat menyedihkan melihat apa yang terjadi di negara kepulauan Maladewa yang indah itu, sebuah negara di mana saya memiliki rasa sayang dan penghormatan yang besar,” ujarnya dikutip dari Stuff, Rabu (9/8/2017).
Baca Juga: Jalan-Jalan ke Makam Kaisar Vietnam Sama Sekali Tidak Membosankan Lho!
Perusahaan perjalanan ternama dunia yang mengoperasikan liburan mewah ke Maldives seperti Thomas Cook dan Kuoni juga telah didesak oleh kelompok kampanye anti hukuman mati untuk mengikuti jejak Branson. Para kelompok tersebut memohon kedua perusahaan besar itu untuk mendesak Presiden Yameen menghentikan eksekusi tersebut.
Pihak Kuoni sendiri sudah buka suara terkait hal ini. Mereka mengatakan tidak memaafkan penyalahgunaan Hak Asasi Manusia.
Baca Juga: 5 Rekomendasi Spot Ideal untuk Travelling Bareng Sahabat, Costa Rica Salah Satunya
“Orang-orang di Maldives bergantung pada industri pariwisata yang berkembang untuk penghidupan mereka dan kami percaya bahwa kami membawa perubahan positif dengan mendukung mereka,” bunyi pihak Kuoni.
Sementara itu, pihak Kementerian Luar Negeri Inggris telah memperbarui saran perjalanan mereka dengan mendesak agar wisatawan menghindari pertemuan besar di Male, Ibu Kota Maldives karena bisa berubah menjadi kekerasan. Jika kisruh ini masih berlanjut, maka pariwisata Maldives benar-benar terancam.
(Vien Dimyati)