SATU tempat yang tidak boleh dilewatkan jika bertandang ke Yunani adalah ke Kuil Poseidon (Temple of Poseidon). Tak hanya posisi kuilnya yang “megah”, perjalanan menuju ke sana juga penuh santapan keindahan.
Dalam peta, posisinya ada di sebelah selatan Kota Athena. Karena berbeda kawasan, Athena dan Sounion (atau Sounio) punya atmosfer yang sangat jauh berbeda. Athena, sebagai ibu kota Yunani, adalah layaknya sebuah kota modern. Sebagian tampak cantik dengan bangunan-bangunan khas Eropa.
Sebagian lainnya tampak kumuh, jalannya penuh coretan vandalisme, hasil pergulatan melewati krisis ekonomi yang masih berjalan hingga saat ini. Sementara itu, Sounion ibarat kawasan tempat warga Athena melepas lelah dari keriuhan ibu kota. Mirip seperti orang Jakarta yang lari ke Puncak atau pinggiran Yogya untuk bersantai.
Sounion bisa dibilang mewakili keindahan pinggiran Eropa. Tempatnya tenang dengan sedikit rumah dan hotel. Destinasi ini juga dilintasi deretan pantai cantik. Di antaranya Glyfada, Vouliagmeni, dan Varkiza. Jika dipadukan, pemandangannya kira-kira akan seperti ini: di bagian paling bawah ada deretan pantai indah yang sambung-menyambung sepanjang jalan, lalu di bagian atasnya adalah tebing-tebing dan bukit tempat berdirinya deretan rumah minimalis, nyaris semuanya bercat putih.
Pemandangan ini lantas akan bergantiganti lanskap, sesuai bentuk jalan. Bisa selurus pandangan mata, bisa juga dalam bentuk lengkungan indah yang sangat epik jika direkam oleh kamera. Nah, keindahan seperti inilah yang bisa disaksikan saat dalam perjalanan menuju Kuil Poseidon.
Waktu tempuh yang mencapai 1,5 hingga 2 jam tak akan terasa, karena siapa pun pasti akan sibuk memotret, atau minimal mengabadikan pemandangan itu dengan mata dan otaknya. Decak kagum pasti akan terucap berulang kali. Jika memilih tidur dalam perjalanan ini, maka itu sebuah kerugian yang besar.
Meski begitu, catatan penting jika ingin melihat pemandangan indah tersebut adalah dengan duduk di sisi kanan bus atau mobil. Karena semua keindahan itu hanya tersaji di sebelah kanan jalan. Sementara di sebelah kiri kebanyakan hanya pemandangan tebing menjulang laksana tembok.
Ikon di tengah laut
Sesampainya di Kuil Poseidon, kita akan diberi sajian pembuka berupa gurun, bagian dari Saronic Gulf. Dari sini, akan terlihat Kuil Poseidon dari kejauhan. Tampak kecil, sendirian, namun megah. Untuk mencapai ke kuil, selain membayar tiket masuk sebesar 8 euro, kita harus menaiki tangga karena posisinya yang berada di ketinggian hampir 60 mdpl.
Selagi menaiki tangga, lagi-lagi pemandangan indah menyapa. Laut lepas berwarna biru gelap yang jernih, dengan “hiasan” karang-karang yang membentuk formasi tertentu. Sayang jika dilewatkan. Naik lagi ke atas, maka pemandangan laut lepas biru tersebut semakin jelas, dan semakin indah. Pemandangannya sedikit banyak mengingatkan pada keindahan di lautan Flores, NTT.
Hanya saja, di NTT tentu tak ada kuil yang berdiri tegak di puncak tebing, dan dikelilingi lautan. Rasanya memang tak ada tempat yang tepat dalam membangun kuil untuk menghormati Dewa Laut Poseidon selain di Sounion. Kuil Poseidon adalah bagian dari tradisi orang Athena masa lampau yang senang membuat bangunan demi menghormati dewa-dewi mereka.
Pada abad ke-5 SM, selepas Perang Persia (Persian War), gubernur Athena memutuskan untuk membuat program pendirian bangunan-bangunan raksasa. Dipilih tiga bangunan untuk didirikan, yaitu Parthenon, Temple of Poseidon, dan bangunan di Ancient Agora. Bentuk kuil Poseidon sama dengan Parthenon, hanya saja dalam ukuran yang lebih kecil.
Tinggi pilar-pilarnya mencapai 610 meter, diameter bawah 1 meter dan diameter atas 79 cm. Bahannya dibuat dari marmer putih, dan semuanya hasil impor. Di bagian atas pilar-pilarnya juga terdapat grafiti atau tulisan tangan para seniman terkemuka abad ke-17. Salah satunya penyair sekaligus politikus asal Inggris, Lord Byron.
Sayangnya, tulisan tangan tersebut tak bisa dilihat dengan jelas karena pengunjung dilarang mendekat ke kuil. Batas pengunjung berdiri hanya sekitar 2-3 meter dari kuil. Pada masa yang lebih lampau, kuil ini menjadi tempat bagi para pelaut dan warga Athena untuk meninggalkan persembahan bagi Poseidon.
Sementara sekarang, Temple of Poseidon menjadi ikon laut bagi Yunani, termasuk panduan bagi para turis yang ingin berlayar atau datang ke Yunani lewat laut. Meski sudah berubah fungsi, setidaknya dari dulu hingga sekarang, kuil ini selalu dikunjungi banyak orang. Dan hampir pasti, meninggalkan mereka dengan ketakjuban. (ful)
(Fahmi Firdaus )