BERAGAM festival gencar dilakukan masyarakat dan pemerintahan demi menarik wisatawan. Salah satunya Jatiluwih Agriculture Festival yang digelar di kawasan Desa Jatiluwih, Kabupaten Tabanan, Bali.
Festival yang mengusung tema Memica Manik Galih yang artinya Mensyukuri Anugerah dan Kemakmuran Alam Semesta ini dibuka langsung oleh Bupati Tabanan, Ni Luh Eka Wiryastuti. Dalam pembukaan festival yang berlangsung mulai April hingga Agustus ini, Bupati Tabanan mengatakan acara seperti ini harus rutin digelar sebagai tanda cinta dan kasih sayang antar masyarakat dan alam.
"Jatiluwih Agriculture Festival 2017 ini digelar sebagai wujud dari rasa kasih kita, sayang kita dan cinta kita terhadap alam serta masyarakat Tabanan. Sebagai kawasan desa wisata dengan mayoritas penduduknya sebagai petani, diharapkan semakin banyak orang datang dan berkunjung bukan hanya untuk melihat sawah tetapi bisa mengenal aktivitas petani saat menanam padi," kata Ni Luh Eka saat membuka acara ini.
Berbeda dengan festival pada umumnya, Jatiluwih Agriculture Festival ini merupakan rangkaian acara yang cukup panjang karena mengikuti siklus alami masa tanam padi. Rangkaian festival dimulai pada April lalu, kemudian pembukaan festival digelar pada 17-18 Juni, sementara festival akan berakhir di bulan Agustus mendatang.
Dalam pembukaan ini juga diisi dengan rangkaian kegiatan mulai dari memanen padi bersama Bupati Tabanan, pertunjukkan seni tari hingga pertunjukan parade yang semuanya dilakukan oleh masyarakat sekitar.
"Orang jadi bisa tahu proses menghasilkan beras. Bukan langsung jadi nasi tetapi ada proses mulai dari mencangkul, menanam hingga panen. Semuanya tergambar di festival ini. Bahkan kegiatan masyarakat di sela proses bertani juga bisa dilihat," lanjut Ni Luh Eka.
Ketua panitia festival ini, I Nengah Sutirtayasa juga mengatakan bahwa Jatiluwih Agriculture Festival 2017 baru pertama kalinya digelar, tapi diharapkan akan menjadi agenda rutin setiap tahun.
"Sayang sekali jika Jatiluwih ini tidak dimanfaatkan sebagai salah satu wisata alam. Apalagi Jatiluwih sudah ditetapkan sebagai salah satu warisan budaya dunia. Kita masyarakat Jatiluwih ingin menunjukkan kearifan lokal masyarakatnya, alamnya yang indah luar biasa serta segala yang disediakan alam untuk anak cucu kelak," kata pria ramah yang akrab disapa Bli Tirta ini.
Rencananya, festival ini akan ditutup pada Agustus mendatang. Rangkaian kegiatan juga sudah dipersiapkan mulai dari kegiatan membajak sawah, menangkap belut, hingga kegiatan kemah bersama.