NGABUBURIT di Yogyakarta paling pas jalan-jalan di Malioboro. Sebuah jalan legendaris yang menghadirkan suasana kota tempo doloe dengan keramahan orang lokalnya.
Kini, Malioboro tak seperti dulu tahun 2005, di mana jalanan belum rapih dipenuhi pedagang kaki lima. Namun sekarang, jalanan ini sudah rapih, dan ramah untuk pejalan kaki. Membuat Okezone terpukau ketika jalan - jalan menelusuri setiap sudut Malioboro.
Perjalanan menuju Malioboro dimulai dari Tugu Yogyakarta dengan jalan kaki sembari melihat sekitaran. Di awal jalanan, ada banyak tempat-tempat jualan busana khas Jogja seperti dress, batik, dan aksesori gelang. Dijajakan dengan murah meriah.
Di pertengahan jalan, sebelah kiri sudah banyak tersedia angkringan, tak terhitung berapa jumlahnya, tapi setiap tempat selalu ramai pengunjung yang menunggu buka puasa. Di atas trotoar juga banyak ditemukan ibu-ibu berjualan sate dengan keranjangnya.
Suasana Malioboro begitu berkesan, sangat eksotis, dan orang lokal pun berjalan dengan senyuman. Bahagia itu begitu sederhana. Turis asing juga terlihat asyik menjajal keindahan jalan Malioboro.
Hal yang belum bisa ditemukan di kota lainnya, adalah pemanfaatan gedung-gedung tua yang dijadikan tempat usaha. Meski sudah usang, dengan usaha modern, suasana kolonial seperti terulang kembali ketika berjalan di Malioboro.
Begitu menakjubkan, kelap-kelip lampu yang menghiasi gedung membuat suasana begitu indah, dan instagramable sekali. Terlebih ketika melihat pasar Beringharjo, yang merupakan pasar tertua di Yogyakarta. Siapa yang meyangka jika pasar tradisional ini berdiri di atas gedung tua peninggalan sejarah, sehingga gaya arsitektur Belanda dan Jawa terlihat jelas di temaramnya malam.
Tak jauh dari sana, ada sudut yang membuat Okezone tertarik untuk mengabadikannya. Sebuah gereja tua yang nampaknya sudah ada sejak zaman Belanda, karena arsitektur zaman dulunya begitu kental. Terlebih, pengelola menempatkan lampu led untuk memberikan nyawa pada bangunan.
Sebenarnya banyak sekali gedung-gedung bekas penjajahan masih digunakan hingga saat ini. Kehadirannya membuat jalan Malioboro ini begitu sempurna untuk dijelajahi terlebih ketika menunggu waktu berbuka. Matahari begitu cantik ketika pamit dari bumi, dan menikmati seruputan wedang membuat hati enggan untuk berpijak meninggalkan sudut jalan Malioboro.
Setelah berbuka, wisatawan juga bisa langsung menjalankan salat Maghrib di masjid sekitar Malioboro, seperti masjid komplek DPRD, di mana masjid ini sangat khas dengan menara tingginya, dan nuansa jawa begitu terasa. Begitu indah kota ini, dan membuat Okezone ingin kembali lagi.