RIBUAN megalitikum di Kabupaten Lahat yang dipimpin Aswari Rivai memang mempunyai beragam arti yang tersirat. Salah satunya yakni Megalit yang berbentuk Batu Macan.
Megalit Batu Macan ini berada di Kecamatan Pulau Pinang, Desa Pagar Alam Pagun, dan sudah ada sejak zaman Majapahit pada abad ke-14. Oleh penjaga situs kuno tersebut, Batu Macan ini disebut sebagai simbol penjaga terhadap perzinahan dan pertumpahan darah.
Empat daerah yang dijaga yakni Pagar Gunung, Gumai Ulu, Gumai Lembah, dan Gumai Talang. Pak Idrus sang penjaga situs mengatakan, kisah adanya batu macan terkait dengan legenda si pahit lidah yang beredar di masyarakat.
Sebuah kiriman dibagikan oleh Eka Patiiwara (@patiiwara92) pada Apr 14, 2017 pada 7:54 PDT
Pada waktu itu, si pahit lidah sedang berjemur di batu penarakan sumur tinggi. Pada saat sedang berjemur, si pahit lidah melihat seekor macan betina yang sering menggangu masyarakat desa. Pahit lidah mengingatkan agar macan tersebut tidak mengganggu masyarakat desa.
Namun, macan tersebut tidak menuruti apa yang disampaikan oleh si pahit lidah. Padahal si pahit lidah sudah menasehati macan tersebut sampai tiga kali, sampai akhirnya si pahit lidah berucap “ai, dasar batu kau ni”.
Akhirnya macan tersebut menjadi batu. Setelah diselidiki, ternyata macan tersebut adalah macan pezinah dan anak yang sedang diterkamnya adalah anak haram. Sedang macan yang ada di belakangnya adalah macan jantan yang hendak menerkam macan betina tersebut.
"Apabila ada wanita di suatu desa diketahui berzinah, maka terdapat hal-hal yang harus dilakukan oleh si wanita itu yaitu menyembelih kambing untuk membersihkan rumah, kemudian sebelum kambing tersebut dipotong, maka orang tersebut harus dikucilkan dari desa ke suatu daerah lain atau di pegunungan," uajr Idrus.
"Kemudian apabila wanita tersebut mengandung dan melahirkan, maka harus menyembelih kerbau. Setelah persyaratan tersebut dilakukan, maka wanita tersebut dapat diterima di masyarakat kembali," jelas Idrus lagi.
(Fiddy Anggriawan )