SEMUA orang berpotensi untuk memiliki bau badan. Ini dikarenakan aktivitas yang padat mampu membuat keringat bertemu bakteri yang menyebabkan bau tak membuat nyaman tersebut. Akhirnya, untuk setiap bulannya setiap orang pasti menyisihkan sejumlah dana untuk membeli deodoran.
Apakah Anda juga demikian? Sebelum menggunakannya, Anda harus tahu beberapa fakta mengenai deodorant berikut ini yang Okezone rangkum dari HuffingtonPost, Senin (22/5/2017).
Sudah ada sejak zaman Mesir Kuno
Item perawatan kecantikan antibau ketiak ternyata bukanlah fenomena yang modern. Jauh sebelum sekarang, tepatnya pada di zaman Mesir kuno, orang-orang terdahulu sudah menyemprotkan wewangian mereka pada lipitan ketiak. Sekiranya inovasi ini muncul pada tahun 1888 dan pertama kali muncul dengan nama Mum.
Deodoran membunuh bakteri
Perlu diluruskan, bahwa yang menjadi sumber bau pada ketiak bukanlah keringat yang diproduksi tubuh. Melainkan bakteri yang bercampur dengan keringat yang menyebabkan bau tidak sedap.
Antirespiran tidak sepenuhnya menghentikan keringat
Antirespiran mengandung alumunium yangv memang dapat menghentikan sekira 20 persen keringat dalam tubuh. Beberapa pakar juga menyarankan untuk tidak menggunakan terlalu banyak alumunium, karena tidak baik untuk tubuh.
Kulit bisa kebal dengan deodoran
Hal ini bisa terjadi karena kelenjar keringat yang selalu ditutup dengan deodoran lantas mencari celah lain untuk mengeluarkan keringat jika pemakaiannya dilakukan dengan jangka panjang. Untuk itu disarankan agar tidak memakai deodoran hingga seminggu atau dua minggu berturut-turut atau ganti merek deodoran paling tidak 6 bulan sekali.
Wanita dan pria sama saja
Banyak yang beranggapan pria lebih mudah bau badan dari pada wanita, sehingga formulasi deodorannya pun bisa berbeda. Ini tidak benar karena sesungguhnya ini hanya trik dari pemasaran dari beberapa brand. Wanita bisa menggunakan beberapa deodorant untuk pria, begitu juga sebaliknya.
(Dinno Baskoro)