JIKA Palembang memiliki songket sebagai wastra khas daerah, maka daerah Sumatera bagian selatan lainnya seperti Bangka Belitung juga memiliki tenun cual.
Ya, hampir sama dan mungkin saja masih dipengaruhi songket, tenun cual juga masih khas dengan benang emasnya. Yang membedakan, cual juga bisa menjadi kain ikat karena pemilihan bahannya yang lebih halus.
Awal mula sejarah cual adalah aktivitas perempuan bangsawan Muntok, Bangka Barat tepatnya di kampung Petenon pada abad 18.
(Foto: Afiza / Okezone)
“Tenun cual itu sebenarnya masih ada pengaruh dari songket Palembang yang material bahannya terutama benangnya sama, yakni sama-sama memakai benang emas. Namun membedakannya, kini cual lebih memvariasikan pada tenun ikat,” ungkap Ketua Ikatan Ibu-Ibu Sumatera Bagian Selatan, Zachria Subagyo kepada Okezone belum lama ini.
Cual sendiri merupakan proses celupan dikali pertama, yang mana mori putih atau benang sutra putih diberi warna kemudian ditenun dengan jangka waktu sekiranya 3 sampai 5 bulan. "Dalam waktu 1 jam saja hanya mencapai 3 cm, terlebih membuat selendang saja. Misalnya membutuhkan 2 meter, dengan lebar 60 cm, belum lagi membuat tenun tidak boleh terburu-buru karena benang akan mudah kusut saat dibuat," lanjut Zachria.
Untuk motifnya, Zachria mengatakan juga hampir-hampir mirip dengan songket, yakni bunga cina, naga bertarung atau yang khas yakni bunga cempaka, burung hong dan gajah.
Namun, ada sedikit kabar kurang menyenangkan dari kain cual ini. Zachria menuturkan, kini semakin sedikit penenun cual yang ditemui di Bangka. Alhasil, ini membuat cual kini semakin mahal.
“Jika dahulu bisa dibilang setiap rumah menghasilkan cual, kini semakin sedikit. Sehingga harganya juga semakin mahal,” ungkapnya.
Berbicara harga, karena faktor yang telah disebutkan sebelumnya. Harga cual juga divariasikan dengan sejak kapan kain tersebut dibuat.
“Semakin lama cual tersebut diproduksi maka harganya pun semakin mahal. Saya sendiri memiliki cual warisan nenek moyang yang sudah ratusan tahun. Yang lama-lama itu mahal selain karena motifnya unik, benangnya juga dipastikan asli benang emas, yang saya miliki ini bisa mencapai Rp100 juta. Kalau yang cual masa kini bisa dari ratusan ribu sampai belasan juta rupiah,” pungkas Zachria.