MEMOTRET makanan Anda dapat membantu menurunkan berat badan loh! Penelitian baru menunjukkan bahwa mengupload foto kreasi kuliner terbaru memungkinkan Anda untuk mengetahui porsi asupan makanan yang hendak dikonsumsi.
Selain itu, ahli gizi juga dapat memantau pasien mereka secara efektif, melihat di mana setiap perbaikan yang mungkin bisa dilakukan. Para ahli mengatakan, metode ini juga membantu mengurangi ketimpangan yang timbul dari metode diet tradisional.
Saat ini, banyak pasien menyimpan catatan atau mengisi kuesioner untuk mendokumentasikan apa yang baru mereka konsumsi. Tapi, tergantung pada kemampuan mereka untuk benar-benar mengingat porsi dan bahan-bahan tertentu, karena banyak juga yang salah.
Nah, dengan prevalensi smartphone, fotografi muncul sebagai sarana penambah informasi asupan yang dikonsumsi. Misalnya, pasien pra-diabetes bisa memotret segala sesuatu yang mereka makan selama 3 hari, menurut para peneliti dari Oregon State University.
Seorang ahli diet kemudian bisa menganalisis foto-foto tersebut untuk membuat rekomendasi perbaikan diet. Tapi, sebelum itu dilakukan, ahli gizi yang meninjau foto butuh pelatihan formal.
"Mereka yang ingin menurunkan berat badan harus belajar bagaimana memotret gambar yang benar. Kami perlu bekerja dengan orang-orang yang berkemampuan mengambil foto," kata penulis studi, Mary Cluskey yang dikutip Dailymail, Kamis (9/3/2017)
"Ambil gambar pada sudut 45 derajat ke makanan, sebaiknya saat Anda sedang berdiri dan pastikan memiliki cahaya yang memadai. Kami ingin membuatnya semudah mungkin bagi orang untuk memberikan informasi yang seakurat mungkin," tambahnya.
Peneliti menguji kemampuan 114 siswa nutrisi untuk mengidentifikasi makanan dan ukuran porsi. Mereka benar mengindentifikasi 9 makaan yang berbeda hampir 80 persen dari waktu. Namun, para peserta berjuang denga tes terakhir setelah melihat gambar makanan di piring.
Dua dari lima perkiraan mereka dalam 10 persen margin berapa banyak makanan benar-benar ditimbang. Makanan tanpa bentuk yang pasti, seperti es krim yang paling sulit dinilai.
(Helmi Ade Saputra)