MAKAM layaknya adalah tempat peristirahatan terakhir bagi mereka yang sudah tiada. Tapi bangunan makam dan sejarah di baliknya selalu lebih menarik untuk dilihat atau dikenang, sehingga makam bisa menjadi tempat wisata.
Di Jakarta pun ada beberapa makam yang kini menjadi tempat wisata, baik itu menjadi lokasi ziarah religi maupun museum. Berikut adalah beberapa di antaranya, yang dirangkum Okezone dari berbagai sumber.
Makam Mbah Priok
Mbah Priok yang menjadi cikal bakal nama Tanjung Priok di utara Jakarta kini dipertahankan setelah sempat nyaris dibongkar pada 2010 lalu. Komplek pemakaman yang dilengkapi masjid tersebut dibangun untuk tetap mengenang Mbah Priok atau yang bernama asli Habib Hasan Alhadad.
Habib Hasan adalah salah satu tokoh penyebar Islam sejak zaman kolonial di abad ke-18. Konon, dikisahkan bahwa Habib Hasan mengalami banyak cobaan saat berlayar dengan kapalnya dari Palembang ke Pulau Jawa.
Selain sempat diserang kapal Belanda, kapalnya juga dihajar ombak besar dan menyeret beliau dan pengikut lainnya ke tanjung Jakarta yang kini dinamai Tanjung Priok. Kata Priok sendiri diambil dari priuk yang ikut hanyut dari kapal dan sempat diletakkan di samping makam Habib Hasan. Kata tanjung, menurut kisah lain, juga diambil dari pohon tanjung yang tumbuh di makam Habib Hasan.
Makam Pangeran Jayakarta
Berada di kawasan Jatinegara Kaum, Klender, Jakarta Timur, ada makam yang tidak pernah sepi diziarahi orang. Makam Pangeran Jayakarta memiliki luas sekira 3.000 meter persegi dan menjadi lokasi pemakaman keluarga kerajaan.
Pangeran Jayakarta adalah seorang penguasa kota pelabuhan Jayakarta pada 1602-1619. Jayakarta atau dikenal juga sebagai Jayawikarta adalah wakil dari Kesultanan Banten. Dia adalah putra Tubagus Angke dan Ratu Pembayun, puteri Hasanuddin, anak Sunan Gunung Jati.
Makam Dato Tonggara
Dato Tonggara yang kini menjadi nama jalan di kelurahan Kramat Jati, diambil dari nama seorang penyebar Islam di tanah Betawi tempo dulu. Terletak di antara pemukiman penduduk, tepatnya di belakang Kantor Camat Kramat Jati, Jakarta Timur, pemakaman ini dibuka sebagai lokasi wisata ziarah.
Berasal dari Sulawesi, petualang berdarah Makassar yang tiba di abad ke-15 ini memang nyaris terlupakan, tapi makamnya tetap ada dan masih bisa didatangi. Kisahnya pun pernah disebutkan dalam buku-buku pelajaran mengenai Kota Jakarta di sekolah dasar.
Dato Tongara dikatakan meninggalkan Makassar dengan banyak tokoh muslim lainnya. Ia datang ke Jawa setelah sebelumnya mampir ke Nusa Tenggara Timur. Di Jawa, khususnya di Betawi, ia terus gencar melakukan dakwah meski ditentang oleh penganut agama lokal saat itu.
Sampai suatu hari, selepas peperangan yang menghabiskan pasukannya, Dato Tonggara pergi ke hutan jati yang seluas kawasan Kampung Makassar, Halim, Kramat Jati, hingga Pondok Gede saat ini. Lokasi yang menjadi tempatnya menutup usia kini disebut Kramat Jati.
(Renny Sundayani)