DONGENG bukan sekadar cerita pengantar tidur untuk anak-anak. Dongeng memiliki banyak manfaat mendidik anak dalam mengajarkan nilai moral, budaya, dan meningkatkan daya imajinasi si kecil.
Besarnya manfaat dongeng membuat pentingnya digaungkan kembali rutinitas mendongeng terhadap orangtua dan anak. Tepat pada 28 November ini diperingati sebagai Hari Dongeng Nasional.
Bicara soal dongeng, ada sebuah dongeng legendaris yang sering diceritakan kepada anak Indonesia. Ya, dongeng tersebut adalah ''Si Kancil''. Siapa tak pernah mendengar dongeng Si Kanci? Cerita tentang seekor kancil yang suka mencuri ketimun, dengan segala sifatnya yang licik dan cerdik. Pertanyaannya, darimana asal mula cerita ''Si Kancil'' ini?
Pada hari Dongeng Nasional ini, seorang penulis buku sejarah Hendri F. Isnaeni berbagi melalui akun Twitter-nya, @hendrifisnaeni tentang dari mana cerita ''Si Kancil'' berasal. Dari tulisannya, diceritakan bahwa dongeng ''Si Kancil'' sudah ada sebelum abad ke-19.
“Kancil adalah tokoh terpopuler, cerita ''Si Kancil'' sudah lama ada dalam masyarakat Jawa, bahkan sebelum ada tradisi tulisan,” tulis Hendri.
Selamat Hari Dongeng Nasional. Ini tulisan saya tentang sejarah Si Kancil. Selamat membaca. https://t.co/rEKOUeN6mu lewat @MajalahHistoria
— Hendri F. Isnaeni (@hendrifisnaeni) November 28, 2016
Menurut James Danandjaja dalam Folklor Indonesia, tokoh binatang cerdik licik dalam ilmu folklor (cerita rakyat) dan antropologi disebut dengan istilah ''The Trickster'' atau tokoh penipu. Sementara, Sir Richard Windsted dalam A History of Classical Malay Literature, pada abad II SM pada suatu stupa di Barhut Allahabad India terukir adegan-adegan dongeng binatang, berasal dari cerita agama Buddha, yang dikenal sebagai Jataka. Dongeng binatang ini kemudian menyebar ke luar India; ke arah barat menuju Afrika serta ke timur menuju Indonesia dan Malaysia bagian barat.
“Dongeng ''Si Kancil'', tulis R.B. Dixon dalam The Mythology of All Races: Oceanic, terdapat di daerah-daerah di Indonesia yang mendapat pengaruh kuat Hinduisme dan erat hubungannya dengan kerajaan Jawa Hindu dari abad ke-7 sampai abad ke-13,” jelas Hendri lagi dalam tulisannya.
Kendati telah lama menjadi folklor yang dituturkan secara lisan, kisah ''Si Kancil'' baru dibukukan pada abad ke-19. Semua versi cerita kancil berbahasa Jawa, ceritanya dapat dilihat sebagai suatu siklus yang menceritakan seluruh riwayat hidup sang Kancil sejak lahir sampai meninggalnya. Informasi tersebut dimuat dalam Katalog Induk Naskah-naskah Nusantara Jilid 3-A yang ditulis oleh tulis T.E. Behrend dan Titik Pudjiastuti.
(Vien Dimyati)