MUSEUM Dinosaurus cenderung hanya memperlihatkan fosil atau kerangka reptil raksasa yang pernah ditemukan. Namun pameran baru di Philadelphia, Amerika Serikat akan membawa makhluk-makhluk monster tersebut ke dunia nyata.
"Jurassic World: The Exhibition" dibuka di Franklin Institute baru-baru ini. Museum bertema film blockbuster ini diisi dengan taman hiburan dengan latar cerita ilmiah dan tentu saja dinosaurus animatronik, yang di antaranya berukuran lebih dari 24 kaki.
Dibuka pertama kali di Melbourne, Australia, pada awal tahun ini, Philadelphia menjadi tempat pameran berikutnya yang bisa disaksikan sampai 23 April 2017. Sebelum ke sana, Anda perlu mengetahui beberapa hal berikut seperti dilansir dari Torontosun, Jumat (25/11/2016).
Bisa mengelus dinosaurus dalam ukuran asli
Pengunjung pameran dapat bertemu Brachiosaurus yang menjulang, bertatap muka dengan Velociraptor, dan lebih dekat dengan Tyrannosaurus rex. Anda juga bisa berinteraksi dengan bayi Pachyrhinosaurus dan ibunya. Semua dinosaurus itu dirancang oleh Creature Technology Co.
Bekerja sama dengan paleontologi profesional
Penyelenggara pameran bekerja sama dengan ahli paleontologi Jack Horner, salah satu peneliti dinosaurus paling terkenal di dunia, untuk membantu membuat pameran yang tepat. Horner adalah orang yang pertama kali menemukan embrio dinosaurus dan mengetahui bahwa dinosaurus memiliki sarang untuk merawat anak-anak mereka.
Dalam buku "Jurassic Park" Michael Crichton mencuri karakter Alan Grant dari Horner. Steven Spielberg juga membawa Horner sebagai penasihat teknis di semua film "Jurassic Park", meski ia tidak memiliki gelar sarjana dan mengidap disleksia.
Meski palsu, tapi didukung ilmu nyata
Museum ini juga berharap dapat menarik pengunjung selain dari penggemar film. Pemandu museum akan menawarkan cara untuk melihat pameran melalui sisi ilmiah pada topik-topik seperti etika sains, perubahan iklim, DNA dan genetika, dan kepunahan.
Museum ini juga menawarkan pameran interaktif. Pengunjung yang berani bahkan dapat menempelkan tangan ke tumpukan kotoran dinosaurus yang dibuat seperti sebenarnya, sebagai cara untuk belajar mengidentifikasi hewan dari jejak hidup mereka.
(Fiddy Anggriawan )