POHON mangrove atau biasa disebut pohon bakau biasa terdapat di perairan sekitar garis pantai. Sesuai arti mangrove itu sendiri dalam ekologi menunjuk pada pohon atau semak yang tumbuh di sekitar daerah rawa tropika dan subtropika. Jadi,tumbuhan ini biasa hidup di rawa-rawa atau di air payau. Tumbuhan ini banyak hidup di pesisir pantai di banyak kawasan di Indonesia.
Namun, sayangnya, pertumbuhan kawasan hutan mangrove mengalami penurunan sekarang ini. Nah, komunitas Inspirasi Kreatifitas Biak Singkawang (IKBS) kembali beraksi menanam seribu mangrove di pesisir Kuala Singkawang Barat, Kalimantan Barat, belum lama ini.
Selain itu, aksi dalam rangkaian peringatan Hari Bumi 2016 ini juga dilakukan dengan membersihkan habitat mangrove dari sampah plastik.
"Kegiatan ini sekaligus sebagai wujud kepedulian terhadap lingkungan di Kota Singkawang, khususnya kawasan pesisir yang rentan abrasi," kata Ketua IKBS, Akhmad Maulana kepada Okezone, belum lama ini.
Aksi ini diikuti 200-an peserta yang terdiri dari unsur pemerintah, lembaga konservasi, komunitas pemuda, pelajar, dan masyarakat setempat. Akhmad mengatakan, selama ini komunitasnya lebih banyak bergerak di bidang sosial. Namun lembaga ini juga menyasar segmen lingkungan.
"Sejak peringatan Hari Bumi lalu, kita sudah bergandengan tangan dengan WWF, Pemkot Singkawang, dan komunitas pemuda untuk menanam mangrove sebanyak 1.350 bibit," ujarnya. Menurut pria yang akrab disapa Olan ini, komunitas ini memandang perlu menindaklanjuti aksi momentum tersebut dengan tetap mengusung tema yang sama, “Kita Peduli, Kita Beraksi”.
"Kondisi hutan mangrove di pesisir Kuala Singkawang Barat cukup memprihatinkan. Banyak sampah plastik yang terperangkap di kawasan tersebut," terangnya.
Dengan demikian ia berharap kawasan mangrove Kuala dapat menjadi destinasi wisata untuk kepentingan pendidikan di Kota Singkawang.
Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Pariwisata, Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Kalimantan Barat, Natalia Karyawati, mengapresiasi terobosan yang dilakukan komunitas ini.
"Kegiatan ini wujud nyata dalam merealisasikan butir-butir dalam unsur sapta pesona untuk meningkatkan sadar wisata bagi pengembangan wisata berbasis masyarakat," ucapnya.
Menurut Natalia, destinasi wisata berbasis mangrove masih minim tersedia di Kalbar. Padahal potensi yang tersedia cukup besar. Setelah Kabupaten Kubu Raya dan Mempawah, dia berharap Singkawang dapat berkembang menjadi salah satu destinasi wisata mangrove.
"IKBS dapat menjadi pelopor pengembangan destinasi wisata mangrove di Kota Singkawang. Dengan perencanaan pengelolaan yang baik, sangat memungkinkan kawasan Kuala dapat berkembang menjadi salah satu destinasi wisata mangrove ke depan sesuai dengan target Sapta Pesona Kalbar," terangnya.
Sementara itu, Manajer Program Kalbar WWF-Indonesia, Albertus Tjiu yang turut hadir dalam acara ini mengatakan sangat mendukung upaya penyelamatan kawasan mangrove pesisir utara Kalbar.
Hal ini bersinergi dengan strategi WWF untuk mendorong penyelamatan, pelestarian dan pengelolaan kawasan Perisai Hijau Kalbar secara multipihak.
"Ide untuk menggerakkan komunitas pemuda dalam restorasi dan pembersihan kawasan mangrove adalah sesuatu yang perlu kita apresiasi dengan baik, sehingga perlu didukung lebih banyak pihak," katanya.
Albert berharap, penanaman ribuan bibit mangrove kali ini dapat memberikan manfaat bagi masyarakat pesisir Kuala Singkawang, serta dapat menumbuhkan kesadaran warga akan pentingnya mangrove bagi kehidupan pesisir.
"WWF juga mendorong terbangunnya jejaring komunitas mangrove di pesisir utara Kalbar, dengan mengumpulkan kelompok-kelompok penggiat mangrove dalam sebuah wadah diskusi untuk pengelolaan dan pengembangan kawasan mangrove," lanjutnya.
Sebagai kota destinasi wisata, lanjut Albert, Singkawang diharapkan mampu meningkatkan pengelolaan kawasan, termasuk di dalamnya mangrove. Peningkatan kesadaran masyarakat untuk lebih peduli terhadap kawasan pesisir, menjadi modal utama dalam pengembangan wisata di kawasan mangrove.