Alasan Terkuat Mengapa Berwisata ke Raja Ampat Mahal!

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis
Jum'at 30 September 2016 00:35 WIB
Raja Ampat (Foto: Okezone)
Share :

RAJA AMPAT memiliki destinasi wisata yang eksotis. Tahukah Anda berwisata kesana sangat mahal. Inilah alasannya!

Siapa yang tidak tahu Raja Ampat? Primadona baru dari timur Indonesia ini sudah mulai dikenal banyak wisatawan dalam negeri maupun mancanegara. Namun sayangnya, biaya untuk mengunjungi tempat itu masih terbilang mahal.

Bayangkan saja, untuk menikmati keindahan yang ada di tempat ini, setidaknya wisatawan harus merogoh kocek sekitar Rp5 juta untuk estimasi 5-6 hari (diluar tiket pesawat pulang-pergi).

Pembangunan infrastrukur yang belum merata memang menjadi salah satu alasan utama, tingginya biaya hidup di kawasan tersebut.

Tetapi, ada fakta menarik lain yang disampaikan Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Papua Barat, Edi Sumarwoto.

“Infrastruktur di Raja Ampat itu masih sangat minim. Untuk pindah dari satu spot ke spot lain harus menggunakan speed boat atau long boat dengan estimasi 3 jam. Bagaimana tidak mahal biayanya,” tuturnya kepada Okezone, Jumat (30/9/2016).

Infrastruktur ini juga berdampak pada pelayanan bahan bakar minyak yang ada di sekitar kawasan. Edi mengakui, hingga detik ini belum tersedia pelayanan bbm dengan harga normal.

Selain itu, kelangkaan tenaga kerja di Raja Ampat membuat biaya operasional semakin mahal. Satu-satunya cara adalah dengan melakukan percepatan infrastruktur seperti, pembangunan bandara, pelabuhan, serta alat-alat angkut yang memadai.

“Tidak usah jauh-jauh ngomongin bbm. Pasokan air bersih yang ada disini itu semua murni dari air galon. Dipasok dari Sorong dengan harga Rp50 ribu, setelah masuk Raja Ampat harganya melambung 2 kali lipat,” jelasnya.

Melihat hal tersebut, Edi menghimbau pihak Kementerian Pariwisata untuk serius mendukung pembangunan yang berorientasikan nasional.

Menurutnya, peningkatan infrastruktur di Raja Ampat sudah mulai terasa, tetapi pergerakannya sangat pelan karena belum serius.

“Mungkin “mereka” masih mementingkan daerah masing-masing. Kami merasa jadi terkotak-kotakkan dan implementasinya masih cenderung kedaerahan,” tutupnya.

(Johan Sompotan)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya